Sulitnya Istiqomah...!



Alhamdulillah kali ini aku lolos dari ujian yang diberikan oleh pihak sekolah...
kini aku sudah menjadi anak SMK...
Uh.. senangnya....
Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk meraih impianku yang hampir putus di tengah jalan.
Aku mencoba beradaptasi dengan baik di sekolah baruku ini. Aku mencoba memasuki salh satu ekstrakulikuler yang di tawarkan oleh pihak sekolah. Aku mengikuti Rohis (Rohani Sekolah). Aku bertemu dengan teman-teman yang mengajarkan aku tentang kehidupan dunia dan akhirat, mengajarkan aku memakai jilbab dengan baik, ada hijab diantara laki-laki dan perempuan dan mereka mengajarkan banyak lagi tentang kehidupan.
Saat pertama aku bergabung diantara mereka, aku caper banged... niatnya sih biar lebih deket aja dengan mereka. Alhamdulillah aku diterima dengan baik dan mereka senang sekali denganku..
Aku di ajak mengunjungi suatu ta'lim yang isinya adalah anak-anak sekolah perwakilan rohis se- kota Tangerang. disana aku melihat banyak sekali wanita yang memakai jilbab panjang, sama seperti teman-teman ku di rohis. setelah aku melihat mereka, aku merasa tenang sekali dan sejuk rasanya melihat mereka. sepulang aku dari ta'lim itu, aku bertekat untuk mencoba memakai jilbab panjang + lebar dan berusaha untuk istiqomah.
Ternyata banyak cobaan yang menghampiri aku, salah satunya yaitu aku di cemooh oleh orang sekitar rumahku. Tapi aku mencoba untuk santai aja, karna aku fikir pasti teman-temanku di rohis pasti nasibnya sama seperti aku, tapi mereka tetap santai memakai jilbab mereka. dan aku juga teringat dengan kedua orang tuaku yang senang karna aku memakai jilbab, malahan kedua ortuku itu memerintahkan aku memakai jilba panjang itu dari aku SMP, tapi karna aku masih ga ngerti kenapa harus make' jilbab panjang jadi aku cuwek-cuwek aja dan ga menghiraukan ajakan ortuku itu. Tapi kini aku telah mengerti kenapa harus pakai jilbab panjang, karena jilbab itu untuk menutupi aurat dari ujung kepala hingga menutupi dada. Itu sabda Rasulullah...
Karna aku sudah getol memakai jilbab, maka dari itu umiku membelikan bangak sekali jilbab untuk aku pakai. jilbabnya lucu-lucu,bermotif,model terbaru n yang pasti sesuai syar'i dan paling penting menutup aurat. Aku seneng banged dengan perlakuan kedua ortuku yang sangat memperhatikan aku. Aku tambah semangad loch... Temen-temen ku juga ikut senang dengan perubahan ku ini. Dan mereka mengatakan bahwa saya harus selalu istiqomah dengan perubahan saya yang baik ini. Saya katakan pada mereka "Insya Allah... do'ain aja yah..."
Hari-hari berlalu. Rohis mengadakan satu acara yang akan melatih fisik, mental dan terutama keistiqomahan para pelajar yang mengikuti rohis. Aku mempersiapkan diriku untuk mengikuti pelatihan itu. Aku dan teman-teman yang lain bersama-sama mengikuti pelatihan itu di daerah Serpong (kesonoan dikit... Hehhe...). Tempatnya itu enak banged, aku fikir tempat pelatihannya itu kaya tempat pengungsian, karena waktu berangkat aja udah naik angkot kecil yang asli ga enak banged untuk perjalanan jauh, tapi ternyata engga. Tempatnya itu malahan kaya Asrama yang tempatnya luas banged,tempat tidurnya juga satu orang satu tempat tidur,jadi aku bisa tidur temang. Aku telah melewati berbagai macam rintangan yang di ujikan kepada kami di hari pertama. Waktu malam telah kulewati dengan baik, ujian yang di tujukan sudah selesai di hari pertama, tinggal menunggu ujian apa lagi yang akan terjadi di esok hari.
Keesokan harinya kita di ajak untuk jogging di sekitar area pelatihan.
Setelah itu kita semua di anjurkan dengan kelompoknya untuk ber outbind ria di tempat yang telah disediakan. pertama aku dan tema sekelompokanku itu menuju ke permainan membawa air dengan corong yang airnya tidak boleh tumpah. kita pun berhasil melewatinya. Kita langsung disuruh menuju permainan yang bermainnya dengan lumpur, disinilah Allah menguji aku dengan lembut tapi dampaknya sangat menyakitkan bagiku... Disaat outbond aku memakai kerudung putih yang so pasti menutupi dadaku, aku melihat jijik banget melewati lumpur yang harus di lewati drngan merangkak di atas lumpur itu. Aku melihat ada alah satu teman ku yang memasuka kerudungnya itu kedalam bajunya, ku fikir itu cara dia untuk menghindari kotoran dari kerudungnya yang sama-sama putih seperti aku. Aku ikutin aja cara dia itu, tapi aku bertekat untuk mengeluarkan kerudungku kalau aku telah selesai melewati rintangan itu. Tapi, munkin saking serunya aku lupa untuk mengeluarkan kerudungku itu. Ya Allah..........
Setelah permainan terakhir aku beru sdar bahwa kerudungku itu belum aku keluarkan, itu juga karna ada yang menyadarkan, ialah salah satu teman ku yang sangat menjagaku tapi karna dia jadi panitia,dia jadi ga terlalu bisa untuk mengawasi aku. Setelah bertemu teman ku itu, aku menyadarinya kalau aku tlah melakukan pelanggaran besar. Seharusnya aku tidak mengikuti jejak temanku itu, seharusnya aku mengingatkan dia dan bukannya aku mengikuti caranya yang salah itu. Ya Allah............ Maafkan aku ya Allah.............
Aku bergegas untuk membersihka badanku yang penuh dengan lumpur, setelah itu aku mengambil wudhu dan langsung shalat taubat... Aku menangis..., rasanya ak ingi teriak tapi ga bisa, lalu aku berdiam diri di satu gubuk pinggir sungai. Disitu aku merenungi kesalahan terberatku... Aku benar-benar menyesali perbuatanku itu dan aku berjanji untuk tidak mengulangi. Aku meminta maaf kapada semua teman-teman ku yang aku cuwekin selama aku merenung. karna selama aku merenungi kesalahan ku itu, mereka menanyakanku kenapa aku menangis dan menyendiri? Tapi aku diemin aja....
Semua itu adalah pengalaman yang ga akan aku lupakan seumur hidupku dan itu aadalah pelajaran brharga aku bahwa kita itu jangan sampai menyepelekan suatu hal yang sudah tau itu adqalah salah tapi kita biarkan saja dan malah di ikuti. Kali ini aku berusaha untuk benar-benar sungguh-sungguh dalam menjalani tugasku di dunia ini agar aku bisa mencapai keinginanku atau mungkin keinginan semua orang yaitu mencapai Surga Firdaus...
Dan aku harus beristiqomah walaupun aku tau bahwa istiqomah itu sulit. Tapi istiqomah tidak akan sulit bila kita melewatinya dengan sungguh-sungguh. Makadari itu do'akan aku ya supaya aku selalu istiqomah dalam jalan kebaikan yang Allah ridhai... Amin..........



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sikap Umum Yahudi Bila Diajak Masuk Islam




Di masa Nabi ada seorang pendeta Yahudi bernama Hushain bin Salam bin Harits. Ia percaya bahwa Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan Nabi di akhir zaman sebagimana diterangkan dalam riwayat Taurat dan Injil. Setelah kedatangan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ke Madinah iapun masuk Islam. Setelah memeluk Islam Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengubah namanya menjadi Abdullah bin Salam. Di bawah ini kami cuplik kisahnya berkenaan dengan hubungannya dengan kaum Yahudi sebagaimana ditulis oleh Munawar Chalil dalam bukunya ”Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad”.

Untuk membuktikan bahwa kaum Yahudi itu pendusta dan pengkhianat terhadap kebenaran, maka pada suatu hari Abdullah bin Salam diam-diam datang ke rumah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Ia minta kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam jika kaum Yahudi datang agar Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menanyakan pendapat mereka tentang dirinya (Abdullah bin Salam). Ia juga minta izin kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam agar dirinya boleh bersembunyi di suatu bilik saat kaum Yahudi bertemu Nabi shollallahu ’alaih wa sallam.

Setelah kaum Yahudi berhadapan muka dengan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam, beliau bertanya: ”Bagaimana keadaan seorang lelaki yang bernama Hushain bin Salam?” Mereka berkata: ”Ia ada dalam kebaikan.”

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bertanya pula: ”Bagaimana pendapat kamu tentang dirinya?”

Mereka menjawab: ”Menurut kami, ia adalah tuan kami dan anak lelaki tuan kami. Ia adalah sebaik-baik orang kami dan sebaik-baik anak lelaki orang kami. Ia adalah semulia-mulia orang kami dan anak lelaki dari seorang yang paling alim dalam golongan kami, karena dewasa ini di kota Madinah tidak ada seorangpun yang melebihi kealimannya tentang kitab Allah (Taurat).”

Mereka terus memuji-muji Abdullah bin Salam. Setelah itu Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Jadi, Hushain bin Salam itu adalah seorang dari golongan kalian yang paling terpandang segala-galanya menurut pendapat kalian?”

Mereka menjawab: ”Benar, Muhammad.”

Kemudian Nabi shollallahu ’alaih wa sallam berseru: ”Hai Hushain bin Salam keluarlah!”

Keluarlah Abdullah bin Salam lalu mendekat ke Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan berseru kepada kaumnya: ”Hai golongan orang-orang Yahudi, hendaklah kalian semua takut kepada Allah! Terimalah dengan baik segala apa yang telah datang kepada kamu! Demi Allah, sesungguhnya kalian telah tahu bahwa beliau ini adalah pesuruh Allah yang kalian telah temukan dan kenali sifat-sifatnya di dalam kitab agama yang ada di sisi kalian. Sesungguhnya saya telah menyaksikan bahwa beliau ini adalah nabi dan pesuruh Allah sebab memang sebelumnya saya telah mengenal sifat-sifat beliau seperti tersebut dalam kitab Taurat. Maka kini saya telah percaya kepadanya, membenarkan segala yang dibawanya dan mengikuti semua seruannya.”

Mendengar ucapan Abdullah bin Salam, mereka dengan sangat menyesal menjawab: ”Oh tuan berdusta! Mengapa tuan berani berkata begitu?”

Abdullah menjawab: ”Celakalah kalian semua! Takutlah kalian kepada Allah! Apakah kamu semua tidak mengenal sifat-sifat beliau ini dalam kitab Tauratmu?”

Mereka berkata: ”Tidak! Tuanlah yang berdusta! Tuan adalah sejelek-jelek orang dari golongan kita! Sebab Tuan sekarang sudah beragama lain!”

Kemudian mereka pergi. Lalu Abdullah berkata kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam: ”Inilah yang saya khawatirkan, ya Rasulullah. Bukankah saya telah menuturkan sebelumnya kepada Tuan bahwa kaum Yahudi adalah pendusta, pembohong, pengkhianat dan pendurhaka?”

Maka pada saat itu juga Allah wahyukan kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ayat berikut:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَكَفَرْتُمْ بِهِ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِي

إِسْرَائِيلَ عَلَى مِثْلِهِ فَآَمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

”Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Qur'an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al Qur'an lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim".(QS Al-Ahqaf ayat 10)

Setelah kabar keislaman Abdullah bin Salam tersiar di kalangan kaum Yahudi, maka mereka dengan congkak dan sombong mengata-mengatai, mencaci-maki, menghina, menjelek-jelekkan dan memusuhinya dengan sekeras-kerasnya. Pada suatu hari di antara pendeta-pendeta Yahudi ada yang berkata kepada yang lainnya dan perkataan itu sengaja ditujukan kepada Abdullah bin Salam, di antaranya: ”Tidak akan seseorang yang percaya kepada Muhammad dan seruannya melainkan orang yang seburuk-buruknya dan serendah-rendahnya. Orang yang paling baik dan paling mulia dari golongan kita tidak akan berani meninggalkan agama pusaka nenek moyangnya dan mengikuti agama lain, dari golongan lain dan bangsa lain. Jadi, barangsiapa dari golongan kita sampai mengikuti agama Muhammad teranglah bahwa ia seorang yang sejahat-jahatnya di kalangan kita.”

Abdullah bin Salam tidak menghiraukan segala ucapan dan hinaan mereka itu. Lalu sehubungan dengan peristiwa ini Allah wahyukan kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ayat-ayat berikut:

لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آَيَاتِ اللَّهِ آَنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ وَمَا يَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ يُكْفَرُوهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ

”Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahala) nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 113-115)

Saudaraku, demikianlah sikap kaum Yahudi pada umumnya bilamana diajak kepada agama Allah. Mereka tidak memiliki obyektifitas sedikitpun bila diajak untuk menerima hidayah dan kebenaran. Mereka sangat keras kepala dan membabi buta mempertahankan ideologi rasialisme dan fanatisme kelompok. Sehingga orang yang semula mereka katakan baik dan mulia serta-merta mereka hina dan caci bilamana orang tersebut menerima kebenaran agama Islam yang berarti harus meninggalkan agama asalnya, yaitu Yahudi.

Sikap ekstrim kaum Yahudi bukan hanya terjadi di masa lalu di masa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Namun hingga hari ini sikap serupa menjadi kekhasan kaum Yahudi sebagaimana dilukiskan oleh Joseph Cohen seorang mantan Yahudi Ortodoks kelahiran AS yang menemukan Islam justru setelah ia hijrah ke Israel (lihat Dakwah Mancanegara: Yahudi AS Pindah Ke Israel dan Masuk Islam). Setelah masuk Islam, Cohen mengganti namanya dengan nama Islam Yousef al-Khattab. Menurut dia, berdakwah tentang Islam di kalangan orang-orang Yahudi bukan pekerjaan yang mudah. Bahkan ketika ditanya tentang kelompok-kelompok Yahudi yang anti Zionis, ia berkata "Dari sejarahnya saja, mereka adalah orang-orang yang selalu melanggar kesepakatan. Mereka membunuh para nabi, oleh sebab itu saya tidak pernah percaya pada mereka, meski Islam selalu menunjukkan sikap yang baik pada mereka".



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Adakah Jarak Antara Agama Islam Dengan Ilmu Pengetahuan?



Hingga kini, para ilmuwan tidak bisa menebak asal mula kehidupan atau bagaimana kehidupan itu dimulai di muka bumi. Sebagaimana mereka tak mengerti mengapa dan bagaimana manusia memiliki keunikan dengan kemampuannya untuk mengetahui dan berpikir yang merupakan sarana untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Kita mengenal perbedaan antara kematian dan kehidupan, manusia dan binatang, yang tuli dan yang mendengar, buta dan melihat, bijaksana dan bodoh. Tetapi kita tidak mampu memahami lebih jauh perbedaan-perbedaan tersebut, atau kita tidak mampu mengubah orang mati menjadi hidup, binatang menjadi manusia yang berpikir, yang tuli menjadi mendengar, buta yang buta melihat, dan yang lemah akal menjadi bijaksana.

Di antara ujian terbesar terkait keyakinan terhadap Allah adalah saat kita menghadiri kematian seorang sahabat yang kita sayangi. Kita sama sekali tidak berdaya untuk mengembalikan hidupnya. Saat itu kita melihat Allah, merasakan kekuasaan-Nya dan mengenali keperkasaan dan hikmah-Nya. Dalam situasi seperti inilah kita memahami firman Allah berikut,

‘Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, ‘Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.’’ (al-Isra’: 85)

Menurut ayat ini, kita dikaruniai pengetahuan terbatas yang memungkinkan kita mengenali Pencipta yang mengaruniai nikmat hidup. Pengetahuan yang terbatas tersebut memungkinkan kita untuk melihat Allah dan memahami keberadaan-Nya. Kemampuan-kemampuan tersebut membimbing kita kepada fakta yang logis, dimana harus ada satu Pencipta yang menciptakan alam semesta yang luar biasa seperti ini, dan memeliharanya dengan cara-cara yang sedemikian hebat.

Di dalam Islam, agama atau keyakinan tentang Allah harus dicapai dengan logika yang diberikan kepada manusia, sebagaimana firman Allah,

‘Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’ (ar-Rum: 30)

Pesan serupa terdapat dalam ayat,

‘Berkata rasul-rasul mereka: ‘Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?’ (Ibrahim: 10)

Sebagian orang mengklaim bahwa ilmu pengetahuan berpijak pada serangkaian eksperimen, sementara agama bukanlah ilmu pengetahuan karena ia berpijak pada keyakinan. Sesungguhnya itu adalah statemen yang tak benar karena tidak seorang pun sudah menguji atau melihat konstruksi dari atom-atom, Artikel alam semesta, magnet atau muatan listrik, komponen-komponen dari gelombang elektromagnetik, konsep-konsep fisika kuantum, dan lain-lain. Semua model tidak lebih dari sekedar asumsi-asumsi logis. Semua ilmu fisika kuantum atau mekanika tidak bergantung pada argumentasi-argumentasi yang teruji, melainkan berpijak pada postulat-postulat logis.

Sebagaimana tiga hukum dari empat hukum Thermodinamik dan Zeroth, dimana hukum kedua dan ketiganya merupakan argumentasi-argumentasi yang tidak teruji. Inti dari termodinamik bergantung pada hukum yang kedua, suatu hukum yang bergantung pada aksioma-aksioma logis atau penalaran logis dan membentuk dasar utama ilmu pengetahuan tersebut. Termodinamik merupakan salah satu ilmu pengetahuan rancang-bangun dasar untuk mengkarakterisasi energi dan mekanisme-mekanisme konversi energi. Salah satu hasil dari hukum yang kedua adalah apa yang disebut ‘Entropi’. Sifat seperti itu ditemukan melalui penalaran logis dan tidak bisa secara langsung diukur atau dirasakan.

Bagaimanapun, ia adalah kunci untuk setiap analisis energi. Tidak seorang pun boleh mengklaim bahwa entropi bukan suatu konsep yang ilmiah.

Dengan alasan yang sama, kita dapat melihat dasar agama. Keyakinan tentang Allah adalah suatu fakta yang dapat ditemukan dengan pemikiran logis. Keyakinan atau fakta tersebut mengarahkan kepada penjelasan-penjelasan logis bagi mereka yang sudah menemukan alam semesta yang tertib, menemukan evolusi-terkontrol, dan penemuan-penemuan lain. Banyak gejala atau mukjizat-mukjizat yang ditemukan di alam semesta itu tidak menemukan penjelasan yang masuk akal tanpa menyertakan keyakinan yang pasti tentang Allah.

Akhirnya, keimanan terhadap Allah adalah satu-satunya fakta yang menawarkan jawaban logis atas pertanyaan-pertanyaan logis yang diungkapkan al-Al-Qur’an berikut ini:

‘Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa?’ (at-Thur: 35-37)

Di dalam ayat-ayat ini, Allah memandu kita kepada Hikmah-Nya dengan penalaran logis yang memberi jawaban tentang alam semesta secara ilmiah. Di dalam Islam, Ilmu pengetahuan dan agama itu serasi. Di dalam al-Qur’an Allah meminta kita untuk meneliti hikmah-Nya pada alam semesta. Allah berfirman kepada kita bahwa Kitab Nya al-Qur’an diturunkan dengan hikmah dan ilmu pengetahuan,

‘Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi al-Qur’an dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.’ (an-Naml:6)



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tarbiyah islamiyah VS Perang Peradaban



Setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian ia belajar dan berkembang melalui pancaindera, lingkungan, lembaga-lembaga pendidikan dan pengajaran yang didirikan oleh masyarakat. dalam hal ini Allah SWT berfirman:

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan memberi kamu pendengaran, penglihatan dan ahti agar kamu bersyukur” (Q.S. An-Nahl: 78)

Masyarakat primitif adalah masyarakat yang bermula dari kondisi jahl (bodoh) dan tidak memiliki pengetahuan. Lalu mereka belajar dan mengembangkan diri mereka dengan pola pendidikan yang sesuai dengan norma-norma sosial, seiring dengan terbentuknya ideology masyarakat, sistem nilai, serta lembaga ilmiah dan pendidikan yang bertanggung jawab akan proses belajar mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah peradaban memang tidak lahir secara spontan, melainkan dari sebuah tradisi keilmuan yang kokoh hingga menciptakan sebuah tatanan keumatan yang bermartabat dan tangguh.

Untuk itulah tarbiyah, yang merupakan sarana pentransferan dan penyebarluasan ilmu menjadi hal yang sangat disoroti. Masa depan pendidikan Islam di dunia muslim ini tergantung kepada tingkat kesadaran pada pendidik muslim, keikhlasan dan perbuatannya. Juga tentunya tergantung kepada kemauan negara-negara muslim untuk mengimplementasikan syairat Islam dalam berbagai sektor kehidupan.

Dalam sejarah umat Islam, sejak diturunkannya wahyu kepada Nabi Muhammad saw, pendidikan telah menumbuhkan generasi yang beriman, berguna bagi dirinya dan mengabdi kepada masyarakatnya serta membawa manusia kepada kesejahteraan dan kebahagiaan. Pada periode Makkah misalnya, Rasulullah saw menggunakan tenggang waktu tiga belas tahun untuk menanamkan akidah dan moral Islam kepada para sahabat agar mereka bertanggung jawab terhadap tugas dakwah Islam dan menumbuhkan masyarakat yang Islami. Pendidikan seperti ini pun beliau lakukan pada masyarakat Madinah ketika Islam telah memiliki pemerintahan dan masyarakat Islam dapat bernaung di bawahnya.

Orang-orang yang dididik pada sekolah Muhammad saw menjadi figure dan suri tauladan dalam segala urusan agama Allah SWT. Pendidikan Islam ini memang merupakan suatu proses mengubah perilaku manusia berdasarkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai yaitu akhlak islami. Dan sekaligus ia telah memenuhi perannya yang istimewa dalam mentransfer turast dan peradaban Islam dari para orang tua (guru) kepada anaknya (murid), dan dari generasi lama ke generasi baru.

Tantangan al-Gazwul Hadhari

Dewasa ini pendidikan Islam tersendat dalam menghadapi berbagai tantangan yang mengancam eksistensinya. Tantangan-tantangan itu merupakan bagian dari tantangan global yang memperdaya peradaban Islam. Tidak ada solusi lain melainkan setiap muslim harus bangkit untuk menghadapi persoalan ini baik secara individu maupun kelompok.

Jika para pemikir Islam tidak berhati-hati, gejala ini sangat berbahaya karena akan menghapuskan peradaban Islam. Peradaban Barat didukung oleh media massa yang kuat seperti radio, bioskop, televisi, internet dan surat kabar yang telah masuk ke negara muslim. jika para pemuda kita, apapun keahliannya tidak dibarengi dengan tradisi keilmuan Islam yang membangun peradaban Islam, maka sangat mungkin pola pikir mereka akan terkikis dari nilai Islam yang syumul kemudian tergantikan dengan peradaban dan nilai-nilai Barat yang jelas tidak bisa ditolerir dalam sistem Islam.

Berkaitan dengan al-ghazwul hadhari, seorang ilmuan antropologi, Linton mengatakan, “Setiap peradaban terdiri dari bagian umum, bagian khusus, dan bagian substitusi. Bagian umum mengandung nilai-nilai, adat tradisi, tradisi dan pemikiran-pemikiran dasar yang mengikat seluruh anggota masyarakat. Bagian khusus adalah konsep-konsep dan adat istiadat yang tidak bertentangan dengan bagian umum. Bagian khusus hanya berlaku untuk satu kelompok masyarakat dan tidak berlaku untuk kelompok lainnya. Adapun substitusi peradaban adalah pemikiran-pemikiran atau adat istiadat yang dibangun oleh seorang individu, seperti keinginan pribadi untuk pemenuhan terhadap kebutuhan-kebutuhannya, tetapi tidak membahayakan kelompoknya.”

Ketika sebuah peradaban mendapatkan serangan dari peradaban yang lain maka perlu diketahui bahwa kemungkinan besar bagian yang akan disusupi merupakan bagian umum. karena pada bagian ini mengikat seluruh atau sebagian besar masyarakat yang berada dalam keterikatan budaya atau pun spiritual. Sehingga yang mengkhawatirkan dari serangan peradaban ini yaitu apa yang disebut dengan taklid a’ma (mengikuti secara membabi buta) terhadap peradaban yang memerangi. Hal ini karena begitu banyaknya unsur peradaban yang dimasukkanke dalam peradaban yang diperangi. Unsur-unsur yang dimasukkan itu adalah bagian-bagian umum yang terkadang sulit disisihkan. Maka al-gazwul hadhari itu dimulai dengan memutuskan jalur transformasi peradaban dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hal ini dilakukan karena ia tidak mampu menghancurkan unsur-unsur internal peradaban yang diperangi secara cepat, terutama pada tingkat penghancuran jiwa, sosial dan politik.

Perang Salib Model baru

Kenyataan yang harus kita sadari sekarang adalah bahwa peradaban Islam tengah menghadapi Perang Salib dalam bentuk baru. Pernyataan palingma perang Prancis, Gourow, ketika mengunjungi makan Shalahuddin Al-Ayubi di Damaskus adalah, “Wahai Shalahuddin, bangkitlah dari kuburmu. Kami adalah pengganti-pengganti Ricardos. Manakah pengganti-penggantimu”? kemudian pernyataan Idane, “Janganlah kita membiarkan negara-negara muslim di dunia bersatu atas dasar prinsip-prinsip Islam, karena mereka akan menembus pintu gerbang Eropa sebagaimana mereka menembusnya pada abad pertengahan. Jika dibiarkan, maka masa depan peradaban negara-negara Eropa akan sangat berbagaya.” Demikian juga pernyataan Abaibane dalam pidatonya di salah satu universitas Amerika, “Kita tidak takut dengan nasionalisme dan socialisme di kawasan Timur Tengah, akan tetapi kita takut terhadap Islam yang mulai agresif di kawasan itu.” Banyak lagi penyataan-pernyataan yang menunjukkan indikasi Perang Salib dalam bentuk baru yang lebih hebat.

Pendidikan Islam memiliki peran yang harus dimainkan untuk membuka tabir rahasia Perang Salib bentuk baru itu, yaitu al-gazwul hadhari yang berbahaya bagi generasi muda Islam. Pendidikan Islam hendaknya dapat menjaga mereka dari bahaya-bahaya yang ditimbulkan sehingga mereka tidak terjerumus dalam berbagai ketidakjelasan yang mengutari bi’ah Islam dan peradabannya. Pendidikan Islam juga harus mendorong mereka agar memiliki sikap positif dalam upaya menampilkan karakteristik asli agama Islam dan turastnya, yang akan menjalani proses perkembangan dengan tetap menjaga dasar-dasarnya yang kokoh. Islam itu kokoh pangkalnya dan dinamis cabang-cabangnya. Islam adalah akidah dan sistem hidup yang cocok untuk setiap tempat dan zaman.

Permasalahan Kurikulum

Kurikulum kebudayaan Islam di negara muslim sebagian masih terbelenggu dengan kurikulum yang kaku. Dalam artian kurikulum yang kurang memperhatikan perkembangan-perkembangan modern untuk menjaga para pemuda dari keterperosokan mereka ke dalam kejahatan hidup abad modern dan kebudayaan Barat. Kurikulum kebudayaan Islam pun tidak membekali mereka konsep Islam yang lengkap untuk kehidupan Islami yang dibangun di atas dasar ilmu, amal, akidah dan jihad, serta di atas dasar pemahaman bahwa Islam adalah sistem kehidupan yang sempurna, yang secara lembut mampu menjawab tuntutan abad modern dengan menggunakan metode mutakhir yang dapat memelihara pokok-pokok ajaran Islam.

Sementara itu, universitas-universitas modern di negara muslim, malah cenderung memisahkan kebudayaan Islam dari kurikulumnya, dengan alasan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja. Sementara pendidikan keagamaan cukuplah merupakan tugas fakultas agama. Proyek pemisahan ini dimulai oleh Danielube, seorang berkebangsaaan Inggris, supervisor pendidikan Mesir pada masa penjajahan Inggris. Proyek ini dimulai dengan merumuskan pemisahan pengajaran di Mesir dan pemisahan dua kelompok kaum terdidik, yaitu kelompok kaum terdidik berbudaya agama dan kaum terdidik berbudaya modern.

Danielube berusaha mengganti pengembangan kurikulum universitas, fakultas, dan lembaga-lembaga keagamaan yang seharunsya berdasarkan kepada kebudayaan Islam, dengan memperbanyak ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu, tumbuhlah sekolah-sekolah modern baru, universitas dan fakultas modern yang hanya menyajikan ilmu pengetahuan modern saja, tanpa memberikan bagian untuk ilmu-ilmu keislaman. Dengan pola seperti itu, lahirnya orang-orang terdidik yang asing terhadap agama dan turast umat. Singkatnya, penjajahan telah berhasil memasukkan konflik pemikiran pada generasi umat ini.

Yang perlu dipahami adalah jika kurikulum sekolah dan universitas memasukkan kebudayaan Islam yang utuh di samping ilmu pengetahuan modern, sudah tentu akan menghasilkan budayawan, teknokrat, dokter muslim dan lain-lain. Mereka akan mengetahui keharusan bekerja yang berdasarkan syariah menurut spesialisasi masing-masing, serta berdasarkan teknik dan metode khusus yang saling melengkapi. Tanpa pengaturan seperti ini, konflik pemikiran akan tetap mengalir pada generasi kita yang terdidik.warna islam. [rhs azZkhrf(Toro/kiadh)]



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS