Tampilkan postingan dengan label Dunia Baruku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Baruku. Tampilkan semua postingan

Perjalanan Ini



Aku tak tau, apakah hal ini sudah biasa dalam perjalanan hidup manusia, atau memang aku saja yang mengalaminya di fase ini? Saat ini rasa yang begitu membuat aku berontak mulai membayangi hingga urat nadi ini berdenyut lebih kencang dan cepat, darah terkadang tak beraturan untuk segera naik memenuhi otakku ini. Ketika jalan ini begitu terasa padat dengan hari-hari yang telah diatur, aku mulai meraba-raba mana yang memang harus aku perbaiki. Aku belajar menghargai, meneriman, memberi, memaafkan hingga bersabar dengan ikhlas dengan setiap tantangan yang ada saat ini.


Jujur, aku bukanlah malaikat yang bisa memenuhi keharusan-keharusan yang ada dengan teratur dan pasti, ada kalanya aku berproses dengan kemauanku sendiri, dengan pemikiranku sendiri. Namun aku tetap melihat konteks pemikiranku, apakah sesuai dengan yang seharusnya atau bahkan membahayakan. Dengan bekal yang telah dianugrahkanNya, aku selalu berpikir lebih positif kedepan. Aku selalu mencari wadah yang bisa memperbaiki diriku agar lebih baik lagi dari sebelumnya, hingga aku bertemu dengan kawan-kawanku dimana mereka mengajariku banyak hal. Kini aku dapat ilmu, dimana kawan-kawan baikku mengajari bagaimana berorganisasi dengan baik dan teratur. Itu belum cukup bagiku, karena aku harus mempraktekannya dalam dunia nyata.

Sampai aku mencoba hal baru di tempat yang aku sebut sebagai duniaku. Aku diluar banyak belajar dengan kawan-kawanku itu, dan berniat mengaplikasikannya dalam kehidupan dimana aku pergi. Aku pun mencoba di kampus dan dimanapun dari ilmu yang aku dapat. Terkadang praktek itu memang lebih rumit ketimbang teori yang didapat. Akan banyak pertentangan yang diterima manakala kita mengaplikasikan kebiasaan baik yang ingin kita mulai, dimanapun. Awalnya aku pikir ini mudah, karena aku mempraktekan ilmu baru dan strategis kepada saudaraku juga, walau beda tempat. Tapi memang apa yang kita inginkan tak melulu mulus, selalu ada rintangan, selalu ada penolakan, mulai dari yang halus hingga penolakan yang menyakitkan hati.

Saat aku menatap langit, aku berpikir ditempat lain langit pun akan sama. Hahh.. ternyata tidak seperti itu, karena harus ada metode lain yang harus disusun sedemikian rupa, agar apa yang aku harapkan bisa berjalan dengan baik. Karena setiap pengalaman akan berbeda, karena setiap pengalaman akan bergulir sesuai zaman. Seperti yang Rasulullah saw. alami pada masanya, bahwa kita memang harus membuat strategi yang matang dalam sebuah maidan pertempuran, walaupun itu dilahan saudara kita sendiri. Niat kita ingin membantu saudara kita yang mungkin masih harus kita bantu karena sesekali mungkin ia terjerembab didalam keburukan ternyata tak berhasil, karena teknik yang diterapkan itu tadi, tidak harus sama.

Kini, aku sedang merenung, berpikir, bagaimana memberi penerapan yang baik kepada saudaraku sendiri, sesuai ilmu yang ku dapat di luar, namun dengan metode yang berbeda. Aku tau, mereka bukan anak kecil lagi yang butuh disuapi dengan sendok kecil agar tidak keselek bahkan muntah, namun setiap jalan memang harus dilalui dengan proses. Sakit hati ini saat dikatakan bahwa aku memberi masukan layaknya orang luar, bukan orang dalam. Jujur, aku menilai seperti itu karena memang aku belajar diluar, agar aku bisa terbuka pikirannya, agar aku bisa dapat masukan yang lebih jernih tanpa campur pemikiran dan ideologi yang saudah ada dalam benak masing-masing saudaraku itu.

Namun, inilah jalanku. Setiap manusia akan merasakan hal yang sama, dengan kondisi dan problematika yang berbeda. Aku hanya mencoba untuk terus bersabar dan melupakan hal yang hanya membuang waktuku saja. Aku hanya ingin berpikir kedepan, walau saudaraku menyangka aku seperti orang lain, entah karna ia hanya berpikir ditempat saja, atau aku yang berlebihan mencari inspirasi.

Semoga ini menjadi bahan renungan dan evaluasi bersama. Maaf jika aku masih belum bisa dipandangan dengan baik olehmu, aku terus berusaha menjadi apa yang kau mau, namun apakah amsih salah jika aku menerapkan pelajaran yang aku terima walau dari luar, walau yang diluar itu juga saudara kita yang memberi saran. Kadang aku berpikir bahwa aku akan mengikuti apa maumu, walau itu tak baik, walau itu hanya keegoisanmu, aku mencoba untuk mengikutinya. Walau aku tau, jika begitu , jalan ini tidak akan berkembang. Namun aku mencoba sabar mengikuti egomu. Biar orang lain yang menilai. Dan semoga aku masih bisa ikhlas menganggapmu sebagai saudara yang dulu pernah kukenal. Perbedaan yang ada saat ini membuat kita jauh, aku takut ini hanya karena urusan dunia. 

Duhai saudaraku, mari kita luruskan niat kita. Jangan kau makan egomu dengan hal yang menjebakmu sendiri, atau menjebak kita semua. Harapku, kita akan terus istiqomah dan berukhuwah. Karena disetiap jalan ada cerita yang naik turun, dalam rangka Allah mengetahui seberapa jauh makhlukNya serius dalam mengemban jalan ini.

Wallahualam..



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

#RapimnasKAMMI2014 (part 1)



Awalnya dapet BC dari kawan di grup WA KAMDA Serang, biasa aja sih bahasa pesannya, tapi nggak tau kenapa kali ini bikin aku penasaran. Inti dari pesan itu bahwa akan ada acara Rapimnas tanggal 5 Juni di Bdiklat Kemensos Jaksel, yang akan dihadiri sama Prabowo juga JK (awal pesannya begitu). Waaaooow keren banget kan kalo bisa ikut nimbrung walau sebentar hehehe...


Waktu pelaksanaanya "pokoknya kumpul di depan halte IAIN SMK Banten jam 6 pagi ya, kita sewa bus, ajak kawan2, ini FREE". Makin tergoda saja mata ini hingga turun kehati lalu naik ke otak untuk menjurus pertanyaan penasranku. "Itu acaranya disana jam berapa? terus kalo ane berangkat dari tangerang gapapa kan? terus kalo ane bawa temen gapapa kan? itu kalo buat anak kammi dari tahun berapa ya yang boleh ikutan? harus mahasiswa kah?" Hahah serangan pertanyaan aku lontarkan dan hanya dibalas dengan senyuman oleh ketum KAMDA Serang. Tak sesuai harapan fufufu

"Ya, ukhti.. ini acaranya untuk anak kammi saja, ajak ya temen2 dan adki2nya untuk bisa ikut :)"
Sambaran halus yang biasa aku dapat dari sang kakak yang satu itu. Nggak ambil pusing, langsung lah aku mengagendakan untuk hadir ke acara tersebut. Tak selang beberapa lama, ada kabar terselubung lagi yang menjelaskan bahwa yang akan hadir bukan Prabowo dan JK tetapi Hatta dan JK. Hmmm nggak membuatku putus semangat. Secara aku ingin melihat seperti apa sih sosok mereka yang selama beberapa pekan terakhir ini selalu muncul id televisi dengan senyum lebar mereka hoho..

Aku bukan orang yang faham tentang banyak jalan kecuali aku sudah pernah mengunjunginya hehe (kayaknya semua orang juga begitu ya :D). Apalagi daerah Jakarta, gak begitu kenal,karena biasa muter-muter di daerah Banten (utamanya Serang), karena kuliahnya emang disana. Aku ajak kawan-kawanku untuk ikut serta, tapi Allah berkehendak lain, teman-teman yang aku ajak yang awalnya bisa, semua cancel tidak jadi ikut, karena stu dan lain hal. Hmm masih belum bisa menyurutkan keinginanku untuk tetap hadir ke acara itu.

Akhirnya aku bertanya kepada teman-temanku via Whatsapp tentang alamat lengkap juga rute menuju Badiklat Kemensos Jaksel. Rata-rata pada bingung memberi rute dan angkutan umum yang pasti. Ada yang usul "naik kereta lalu naik ojeg", ada yang usul "naik busway aja kan bisa sambil jalan2" o.O, ada yang usul "naik bus ini terus turuan disana lalu naik angkot ini terus naik angkot anu dan angkot itu" masya Allah panjang juga ya rutenya, dan terakhir yang paling keren adalah usul ini -> "naik taksi aja cuma sekali jalan" *ngoks -__-

Aku yakin dengan pertolongan Allah, terlalu fokus sama alamat yang gak begitu jelas, mamaku pun bertanya "emang itu ada di jalan apa? deket apa gitu?" Hahh langsung tercerahkan, aku langsung bertanya tentang hal itu kepada temanku yang aktif di pusat, "itu ada dijalan apa ya, ka'? patokannya apa?"
Tadaaaa akhirnya ada jawabannya "pokoknya Jl. Dewi Srikandi, belakang RS Budhi Asih"
Triiiing... langsung lah aku beredar menanyakan lagi ke temen-temen yang faham rute. Sampai pada akhirnya aku menemukan jawaban yang pasti "Oh kalo kesitu mah hestu naik Agramas yang arah pasar rebo terus naik metromini 53 aja" Sipks kalo itu aku kebayang lah rutenya hahaha...

Dengan modal gak tau diri, aku pun berangkat di pagi hari, sekitar jam 6 pagi lewat dikit lah..
Eits hampir ada yang lupa. Aku berangkat naik Agramas bersama sepupuku, Endah. Secara doi kuliah tiap hari selalu turun di pasar rebo lalu lanjut naik angkot menuju UHAMKA. Fixed "aku sama kamu ya, ndah" sambil ngerayu gombal, dengan suara lembutnya ia menjawab "iyaa etu". Hahhaha senang sekali bisa ada temannya juga, yaa walau cuma sampe pasar rebo. Banyak untungnya juga bareng Endah, karena dengan dia bisa ngerumpi tentang rencana untuk adik-adik ROHIS kedepan (Endah satu sekolah denganku di SMK Prudent School, sama-sama ADS *tsahh)

"Kita turun disini ya, tu.."
"Biasanya kamu lewat pintu depan atau belakang kalo turun, ndah? kalo aku kalo turun di depan kampus lewat pintu belakang, jadi biar enak langsung nyebrang, nggak nunggu busnya lewat"
"Aku lewat pintu depan, tu.. kan mau nyebrang hehe"
"Oke, kita lewat pintu depan ya.. Oiya, nanti kalo aku pulang kau naik busnya dimana, ndah?"
"Disana aja tuh, tu.. yanga da tulisan TAMAN tuh"
"Hooyayaya okeh"

Sebenernya perbincangan diatas ga begitu penting sih, tapi gapapa lah, udah kebaca juga kan ya? huhuhu

Akhirnya aku dan Endah berpisah di pasar rebo dengan mata tak tega plus backsound "Sahabat Sejatiku - Sheila on 7". Tapi kayaknya Endah tega-tega aja tuh ninggalin aku sendirian *plakk. Hmm nunggu metromini 53 lumayan lama juga, sekalinya ada selalu penuh penumpang. Untung aja sebelumnya aku dan Endah udah sempet sok nanya-nanya ke Pak Polantas yang lagi bertugas, dan sempet susah ngedapein Polantasnya, karena geraknya gesit banget. "Perasaan tadi polisinya disini deh, tu" suara Endah kebingungna sambil clingukan. "Wah itu dia polisinya" kataku sambil nunjuk polisi disebrang sana. Meh.. gak mungkinkan aku nyebrang lagi buat bertemu dengan sang polisi. "Udah, ndah.. kita tunggu aja polisinya nyebrang lagi, bentar lagi juga nyebrang" dan eing ing eng... gak lama kemudian beneran aja tuh polisi udah ada di depan kite hehe. Lansung nggak ambil lama buat nanya.

"Misi, pak.. mau tanya"
"Yap" jawabnya sigap tanpa senyum
"Kalo ke budhi asih itu kearah mana ya, pak?"
"Oh kesana, naik angkot 06 arah kampung melayu"
"Oh kalo naik metromini 53 bisa juga kan, pak?"
"Bisa"
"Makasih, pak.."
"Ya"

Sadiiiissss..... untung kau gak kelepasan bilang "bagi senyumnya dong, paaak" hahaha
karena metromini gak menunjukan tampilan yang bagus, akhirnya aku mutusin naik angkot 06 arah KamLay (a.k.a Kampung Melayu). Awalnya aku pikir sih akan biasa aja perjalananku ini, karena belum nemu kendala yang baru tuh, apalagi jalan menuju Badiklat Kemensos semakin dekat. Still yakin aja gak bakalan ada masalah yang serius. Tapi namanya merantau ke negeri orang, aku bertanya ke salah satu penumpang disebelahku untuk memastikan,
 "Bu, budhi asih masih jauh gak ya?"
"Budhi Asih mah udah lewat, neng.. di pasar rebo sono noh" sambil nunjuk kearah berlawanan
"hmm bukannya di..."
"mau kemana, neng?" ibu-ibu yanglain menanyakan aku
"ke budhi asih, bu"
"oh budhi asih masih jauh, neng.. nanti juga lewat"
"oh gitu ya, bu.."
"saya juga mau ke budhi asih" tetiba mas-mas di depanku menyambar, tampang agak bule tapi masih agak asia gitu.
"Oh yaudah bareng ya, mas.. makasih yaa"

Nah, disinilah asal mula kisah problemnya. Nggak lama diantara perempatan gitu, abang supir dengan suara gak terlalu jelas (kayaknya mah) bilang "budhi asih ada?"
Tiba-tiba mas-mas yang ada di depanku turun dan bilang "ya budhi asih". Kaya gak pake mikir lagi aku ikutan turun. Huft.. ternyata budhi asih masih jauh, karena si mas-masnya dan dengan satu orang kawannya jalan gak berenti-berenti. Sampe penasaran aku ngikutin mereka, aku nanya ke abang ojeg sekitar situ "Bang, budhia asih dimana ya?", "Oh disono neng, masih jauh. ayolah abang anetrin naik ojeg yok, masih jauh lho"
OMG masih jauh ternyata -__- Terus ngapain itu mas-mas turun disitu dan aku pake ikut lagi saking yakinnya T_T
Tapi aku masih belum percaya, aku jalan terus ngikutin tuh orang, selama jalan dibelakang mereka, aku baru sadar kalo mereka berdua itu turis.. sekali lagi TURIS. Woooiiii hestuuuu masa nanya jalan sama bule, ini negawa looo keleeeeus... hati ini menegur amat tajam. Sampai akhirnya aku mulai males ngikutin mereka dan mencari orang yang bisa ditanya, dan pada saat itu yang ada hanyalah anaka SD kelas 5, masih inget banget namanya Farah. Bocah manis yang baik hati. Ternyata dia sekolah di belakang Budhi Asih. Haaaa Thanks God. Kaya abis nemu air zam-zam di padang pasir (yekale sgitunye -_-). Ternyata Allah emang pingin kau ketemuan dulu sama si manis Farah. Oh Farah, sedang apa ya kamu sekarang? Makasih yaa udah jadi pahlwan dalam hidupku, sampai sekarang masih hafal sama suranya Farah yang lembuuut banget, keliatan banget anak itu anka yang lugu hehe

Sampai juga di Badiklat Kemensos, hahhh legaaaa... Hmmm tapi kok... (to be continue)

Haaa panjang juga ya ceritanya, lanjut nanti deh, ini baru edisi perjalanan. Edisi Rapimnasnya nyusul yaaa :D
Malam yang kelaparan, aku makan dulu yo ^^



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Singkongku Menjadi Bolu



Allah telah menghibur kesunyianku hari ini..
Sungguh nano rasanya. Saat pagi aku menteskan air mata jeritan lelah, menjelang siang aku dibuat geregetan karena tingkah kawanku yang tak paham sejarah, siang aku dibuat berdebar, sore aku dibuat lebih semangat dan mencoba hal baru, malam aku dibuat bahagiaaa..

Simsalabim... Singkong berubah menjadi kue boluuu... Namanya PELUMAS, a.k.a Pasti Enak boLU huMAS :3 *agak maksa sih hehe*

Yang harus dilakukannya kini hanyalah #bersyukur kepada sang kholik pencipta kebahagiaan. Alhamdulillah.., karena dalam satu hari Allah telah memberi rona warna yang tak diduga-duga.

Congratz buat all staff Humas yang ane sayangi dan banggakan karena Allah. Perjuangan singkat tadi menumbuhkan keceriaan dalam diri. Walau awalnya tak percaya dalam mempersiapkan pertarungan itu, namun berkat usaha dan ukhuwah kalian, semua menjadi indah luar biasa..

Humas menang lomba masak juara 1? hahaha agak lucu, namun ini nyata. Biasanya kita berkutik didepan laptop, memotret hal penting dan mengabadikan informasi ke media. Alangkah langkanya, ternyata kita juga bisa berkarya dalam kobaran api yang melingkar biru diatas kompor, dan kukusan kue yang ditaburi butiran misis.

Syukron Resti, Rena, Rahmat.. 3R luar biasa yang Allah takdirkan untuk kumiliki di Humas Batu Bata Peradaban, terutama hari ini. Keep fight yaa, karena besok kita kan bertarung kembali hehe..

Barakallah juga untuk Departemen Kaderisasi (juara masak ke-2) dengan kreasi kue goreng isi banyak rasa yang kreatif *hmm itu tadi namanya apa ya?*. Dan Departemen Kastrad (juara masak ke-3) telah menggelorakan risol isi sayur yang tak sempat kucicipi huhuhu. Semoga perjuangan kita ini bukan untuk memerangi SC, namun untuk bersama-sama menikmati keseruan nikmat ukhuwah yang Allah tuangkan pada kita di sore yang singkat tadi.

Syukron jazakumullah khoir juga untuk mujahidah-mujahidahku dari Departemen Kemuslimahan, karena berkat rangkaian acara yang diadakan hari ini, all personil Batu Bata Peradaban dapat mengakrabkan diri, walau sekedar menyalakan kompor. Aku rasa yang menang hari ini adalah Kemuslimahan, karena telah berhasil menyatukan ukhuwah dengan cinta, dalam waktu singkat. Dan berhasil mengubah hatiku yang kelabu menjadi merona bahagia.. :'))



@hestuSUGAR
Senin, 25 November 2013. Pukul 20:30 bbwi.
Bus Asli Prima AC, duduk di kursi tengah. Tol Serang - Tangerang.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mie Ramen Naruto Menggugah Rasa



Awalnya cuma ikutan temen-temen liputan kuliner sambil mengisi kekosongan perut yang mulai kriuk-kriuk, tanda minta sesuatu untuk melabuh didalamnya. Dari namanya pun sudah kebayang, pasti Mie Ramen Naruto ini adalah semangkuk mie berkuah dengan rasa ramen yang khas. Setibanya di tempat makan Mie Ramen, tepatnya di jalan Ciracas dekat pom bensin yang pastinya itu berada di Kota Serang, aku langsung mengambil menu yang sudah disediakan dan langsung memilah-milih kira-kira mie ramen apa yang cocok dilidah.

"Naaaah, ini aja deh.. Sakura Ramen", sambil nunjuk-nunjuk ke menu aku katakan ke teman-teman sesama tim redaksi Pojok Gaul Magazine. Saat mas yang melayani kami datang, tiba-tiba bertanya "ini mau level berapa?". What?! Level? Haha aku baru tau kalau ada levelnya juga disana, yang pasti itu level kepedasannya. Hmmm karena baru awalan, jadi aku pesan level 5 dulu untuk coba-coba hehehe.

Pesanan pun datang, setelah hampir 10 menit menunggu dengan sabar. Yaa maklum, mie ramen proses pembuatannya nggak sekilat i*d*mi rebus yang hanya perlu waktu 3 menit untuk memasaknya. Cobain dulu kuahnya *srrruuup* hmm nyamnyam rasanya begitu menggoda untuk menikmatinya lagi lagi dan lagiiii hahaha.

Haaaah lumayan puas, karen aku juga bisa bertemu langsug dengan ownernya yang kreatif abisss. Tapi untuk obrolan kami dengan sang owner bisa disimak di Pojok Gaul Magazine next edition hehe. Pulang dari makan Mie Ramen Naruto, iseng share foto-fotonya di WA grup kelas, buat pamerrr dan satu lagi di Line buat sekedar eksiss haha. Nggak nyangka banyak yang respon.

"Mba, itu dimana belinya? Berapa harganya? Aku mau dooong #elapiler", yaa begitu kata-kata yang terlontar dari banyak kawan-kawanku yang melihat pesona semangkuk Mie Ramen menggugah selera. Hummm... Karena melihat banyak yang respon, aku iseng lagi share foto-fotonya di Facebook dan nggak lupa juga twitter. Huwaaaahhhh makin banyak yang pengen broooowww :D

Sempat mikir, kalo aku jadi humas di kedai makan itu mungkin aku akan dapat komisi yang menggiurkan, karena bisa narik massa sampai tingkat kecamatan haha (yang ini agak lebay). Nggak jarang malamku diganggu sama telepon dari kawan yang sedang berada di jalan mencari lokasi kedai mie ramen tersebut. Menggiurkan ternyata.

Semua sudah tau, tapi sayang dan mapang banget buat kawan-kawanku yang bukan berada di daerah Kota Serang, yang nggak sengaja liat beranda Fb atau TL tentang Mie ala Jepang itu. Sayangnya mie hemat tapi miliki rasa yang seru ini baru ada di Kota Serang. Kalo di kota atau daerah lain mungkin harganya udah sampai 25ribu keatas, kalo ini hanya berkisar 12-20ribu ajah.

Buat yang mau tau lebih lengkap tentang info Mie Ramen Naruto yang lezizzz abieezzz, bisa tunggu/beli edisi baru Pojok Gaul Magazine di abang-abang majalah terdekat hehehe #tetepPromo :P



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Banten Untuk Siapa? Banten Milik Siapa?



Gerbang KP3B | sumber gambar rumahdijual.com
Hari ini memang hari yang aku tunggu-tunggu, karena akan bertemu dengan dosen yang begitu ceriwis walau agak rumpi, tapi seru aja ngeliat tingkahnya dalam mengisi perkuliahan. Sebetulnya ibu dosen ini tidak spesial, biasa saja seperti dosen yang lainnya, namun yang luar biasa, beliau memiliki segudang cerita unik dan mencengangkan tentang Banten. Dengan gaya bicaranya yang khas, kadang membuat geli dan kadang membuat ternganga melihatnya, karena saking seriusnya kita mendengar beliau bercerita.


"Ya, saya kan saudaranya bu Atut, tapi saudara yang golongan Kontra"

What? Kami sekelas sempat kaget mendengarnya, ada juga yang merespon sambil ketawa aneh, agak heran ternyata ada juga ya saudara Gubernur Banten yang tidak cocok dengannya. "Saya begini karena sudah tau bagaimana situasi pemerintahan yang dibina bu Atut sejak dulu". Rasanya ini lucu namun ajaib, bahkan sempat berpikir apa mungkin karena beliau terkontaminasi oleh kawan-kawannya di fakultas yang tergolong peka sosial dan politik, namun itu jadi terbantahkan saat beliau menjelaskan bahwa ia dan suaminya pun tidak suka dengan pemerintahan yang dipimpin oleh Atut karena gaya kepemimpinannya yang tidak wajar.


"Sekarang bola sedang memanas, saya harap teman-teman mahasiswa bisa memanfaatkan momen ini agar lebih memanaskannya melalui opini yang dimuat pada media massa. Mumpung masih panas, jangan sampai nunggu padam, karena kita harus bisa memperbaiki Banten, beropini salah satu hal kecil namun berdampak besar bagi siapapun yang dikritik." katanya yang semangat.

Sebetulnya ini bukan kali pertama beliau memberikan informasi mengenai kebobrokan Banten, tetapi sudah semenjak pertemuan perdana beliau menyampaikan informasi serupa untuk bahan pembahasannya. Waktu itu aku pikir mungkin karena ia memegang matakuliah Opini Publik, makanya mau tidak mau beliau mengabarkan itu semua sebagai contoh. Tetapi sepertinya ada filosofis tersendiri ketika ia menyampaikan itu. Seperti ada harapan yang ingin segera diwujudkan oleh kami mahasiswa.

Bendungan air mata yang rasanya sudah sesak dirongga dada ketika mendengar uang-uang APBD yang dibilang terbesar di Indonesia bergulir bukan untuk rakyat. Sesak bukan main dan rasanya saat dikelas itu aku ingin teriak tapi tak mungkin. Ya, kebobrokan Banten bukan hal yang tabuh lagi, saking terasanya keanehan dalam fasilitas dan lain-lainnya. Mungkin tidak semua tau bagaimana situasi di Banten jika belum berkunjung langsung, karena Banten sangat mempercantik tampilannya di media atau bahkan banyak yang tidak tau karena pemberitaan tentang Banten di media nasional cukup sedikit. Baru kali ini hal yang lumrah di Banten terkuak pada tataran nasional dan dirasa tabuh.

Banten menjadi sumber koruptor yang sangat empuk, korupsi dianggap sebagai budaya dan kata-katanya pun tidak langsung bilang kalo itu korupsi, lebih dikatakan sebagai "jatah". Bahagia sekali mereka memakan uang rakyat, mungkin belum ada kesempatan ditegur Allah, atau mungkin Allah sudah tidak mencampuri urusannya lagi didunia agar Allah bisa puas memasukkannya ke dalam kerak neraka.

"Biasanya budaya kita di Banten kalau ingin mengadakan agenda seperti ini kita biasa kasih ke Ibu 30%, tapi itu belum untuk saya lho.. biasanya saya dapat 10%, dan buat pajak sekian.. dan.. (bla bla bla bla..)" Cerita ibu dosen memperagakan cara bicara seseorang saat ia bertemu dengan bidang yang mengajak kepada para akademisi untuk mengevaluasi kinerja dari suatu program kerja se-Banten. Dari angka 90juta, para akademisi tercengang karena akan hanya dapat 30juta saja untuk mengevaluasi kinerja se-Provinsi Banten, karena dipotong sana-sini namun dalam surat perjanjiannya tetap tertulis 90juta rupiah. Sangat mencengangkan bahwa korupsi dilakukan secara terang-terangan. Dengan sigap para akademisi tidak sama sekali menerima ajakan tersebut. Mungkin hal semacam ini yang menyulitkan KPK untuk bergerak, karena data tentang kedzaliman di Banten sudah terkumpul semua tetapi sulit untuk digugat karena yaa surat perjanjian yang sudah tertandatangani oleh para oknum itu sangat rapi.

Ironis dan mirisnya memang tidak tanggung-tanggung, jika kita melihat kondisi Banten saat ini kelaparan, kemiskinan, kesehatan yang tidak memadai, lapangan pekerjaan yang masih kurang dan lain-lainnya menjadi warna-warni yang kelam bagi masyarakat di Banten. Faktor kedinastian pun menjadi salah satu penyebab keburukan tatanan pemerintahan di Banten.

"Kalau Jokowi berhasil memimpin Solo itu biasa, Jokowi memimpin DKI pun masih biasa dan katanya mau memimpin Indonesia itu juga akan biasa saja. Namun Jokowi akan dibilang luar biasa jika ia bisa menjadi Gubernur Banten dan memperbaiki semuanya." Guyonan menantang dari para dosen di fakultas saat mereka berkumpul, menampakkan kegerahan dengan situasi seperti ini dan hanya harapanlah yang membawa perubahan sesungguhnya.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dakwah yang Tergadaikan



Pagi tadi rasanya aku begitu ceria, siang pun banyak kisah yang tertuang. Ini hari pertamaku kuliah di semester ganjil yang ketiga. Hingga tadi aku mendengar seruan ilmu yang mengingatkan aku dan kawan-kawan pada kitab suciNya yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. Aku termenung mendengarnya, begitu menginspirasi, dari lidah sosok yang sudah biasa dikenal kami para pejuang kampus, Ust. Fadlullah (Dosen PAI FKIP UNTIRTA). Senyum-senyum kecil kepada sang pengabar kebaikan, terkadang tawa cerdas dan saling menyimak. Hingga sampai diakhiri dengan doorprize yang menggiurkan mata, walau aku tak mendapatkannya, tetap senang dan ceria.

Tetiba ada sosok lugu memanggilku sampai aku menghampirinya, menyapaku dengan manis dan penuh polos. Aku senang punya adik baru, kebetulan masa MABA (Mahasiswa Baru) masih harum tercium dari angin kampus. Akhirnya kami bercengkrama, hingga ada kata yang membuat kutersontak kaget lalu histeris sedikit. Penasaran. Ada kisah yang membuatku terasa kasihan dan khawatir, aku pendam dengan tenang, namun terpikir dahsyat. Sambil terdiam kuselinapkan kata untuk terus mencari tau kebenarannya, jika salah makna bisa berdampak aneh pada pikiranku. Langsung aku berdoa agar berita kemiringan itu tak benar adanya, untuk tetap jaga ukhuwah.

Aku sudah memendamnya walau masih terpikir. Aku melangkahkan kaki mungil ini menuju tempat yang memanggil kawanku, aku diajak bertemu sosok yang kedua usai sholat maghrib yang aku ikut masbuk saat itu. Langkah pasti ku gerakan, bertemunya aku dengan sosok yang kedua ini berawal santai dan penuh canda. Tak lama kemudian, berubah dengan nada marah kutanggapi. "Apa? jadi begitu?!!" tersontak kesalku terucap lantang. Ini masih tentang aktifitas dakwah. Aku dibuat kecewa, tentang aktifitasku yang kujaga, ternyata dirubah tanpa ada yang mengabari dengan gamblang, lalu aku baru tau saat ini dalam kondisi yang tak mendukung. Kesal. Langsung aku gerutu dengan kegondokan, sampai pada akhirnya aku bercerita ke sosok yang biasa disampingku (sosok ketiga/sudah beda orang lagi). Aku mengisahkan seluruh luapan pertanyaan hati yang tak sanggup aku pendam sendiri.

Dalam bis antar kota kami berdiskusi layaknya sidang yang sengit. Semua tentang kami dan ummat. Aku malu sungguh jika membicarakan keummatan yang sungguh belum aku raih dalam kondisi kampusku. Dengan konsidi yang berkecambuk dan nyaris membuatku lemas tak berdaya, namun aku tetap menguatkan tegaknya badanku, seperti yang diajarkan para pendahulu tentang bersabar dan tegar. Sangat banyak yang kami diskusikan hingga aku berharap diskusi ini menjadi ladang perubahan, walau kami sama-sama sempat kecewa.

Sedih, rasanya jalan ini tergadaikan dengan tingkah laku yang membosankan. Bukan hanya aku, banyak insan ternyata merasakan hal sama, namun, banyak insan itu hanya segelintir. Perubahan memang bisa diraih, seperti yang sempat kusinggung sebelumnya, bahwa perubahan cepat teratasi dengan kebersamaan yang kokoh. Sepertinya itu menjadi pupus jika dijabarkan. Pilihan kedapan itu terlalu banyak menguras ketenangan, tameng harus siap siaga dengan bermacam hal yang tak pernah dihadapi. Tapi memang harus dihadapi.

Tantangan dakwah telah dihadapan, rasanya aku masih bersama yang segelintir. Entah ini hanya perasaanku, namun sering kukaji ulang dan hasilnya tetap sama, kepekaan milik segelintir. Hingga hati menjerit, mata tak indah meneteskan kerisauan, teriakan mulut rasanya ingin segera keluar dari rongga tenggorokan. Tak sedikit juga dari segelintir mulai menepi kepinggir untuk mengibarkan bendera putih, kian segelintir dari segelintir. Memang bertahan adalah pilihan. Pilihan yang Allah tetapkan untuk segelintir dari segelintir, untuk insan yang masih diberikan kepercayan olehNya, untu insan  yang terus kuat dan menjemput gelar mujahid.

Kekhawatiran begitu berkecambuk, sunyi hati ini memikirkan keberlimpahan problematika. Tak diherankan ada rasa ingin ikut melipir dan mengibarkan bendera putih, namun aku takut, aku menjadi insan yang tak bisa tepat dengan janjiNya dan mengecewakanNya jika aku ikut melipir kepinggir. Diskusi alot yang tak menghasilkan terus menjadi usaha. Membatin rasanya untuk berteriak "Haiiii..... apa yang kalian lakukaaaaan???". Banyak diskusi sedikit aksi menjadi tamparan besar. Landasan yang harusnya menjadi patokan perjuangan ternyata tak banyak yang menghiraukan, bahkan tak ada. Sudah banyak orang kejauhan yang mengingatkan "Perbaiki pemahaman antum!", namun rasanya itu hanya menjadi kicauan sesaat.

Rasa tanggung jawab menipis bagai lembaran rambut yang entah berapa inci. Tanggung jawab hanya menjadi sebuah penggugur saja, "yang penting ane selesaikan amanah ane, setelahnya biar yang lain saja". Apakah dakwah hanya pada sampai titik itu saja? Pertanyaan kotor pun terus terpikirkan dengan kualitas yang kini ada, "sudah pantaskah kita memimpin? jika belum, kenapa?", lagi-lagi pemahaman.

Keluh saat aku berada dihadapan mereka, jika kuluappkan semua pasti akhirnya aku akan tersedu sedan dan membanjirkan luapan emosi. Apakah aku tetap harus melakuakan itu? Kini hanya harap penuh kepada Allah agar setiap langkah yang menjalar pada titik perjuangan dapat diperbaiki, dan aku salah satu makhluk yang ikut memperbaikinya, semoga. Perjuangan kita masih jauh, amanah yang Allah berikan kepada kita seharusnya dapat membuat kita kuat, bukan melipir tak berdaya. Jika kegencaran gagalnya sebuah amanah, ukhuwah hingga puncak dakwah, maka ada perasaan yakin yang kutanam bahwa itulah yang cobaan cinta dariNya yang Allah titipkan untuk kita. Lari bukan jawaban. Bergerak adalah pilihan. Tergantikan, sebuah cerminan kekalahan.

Sebelum tidur, setelah berdiskusi dan diiberi secuil pengarahan tentang dakwah kampung, aku mendengar celotehan yang menggugah, dari sosok mas'ul di kampung halamanku. Hingga tak sadar menitikan luapan hati lewat mata kecilku. "Jangan lupa ruhiyah antum ditingkatin, karena sebagus apapun konsep kita kalo ruhiyahnya kendor, musnah semua deh. Tilawah antum dikencengin lagi. Ane bukan ngingetin antum aja, tapi antum biar ngingetin yang lain juga". Kata-kata sederhana itu yang tak aku dapatkan pada peradaban kampus mungilku.

Wallahu'alam bishowab.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nulis Jalan-Jalan



Rasanya kalo kita ngomongin tentang nulis bakal banyak banget cerita dari tiap sosok yang menyampaikannya, atau banyak juga yang kita pikirkan. Salah satu yang kepikiran adalah mau nulis apa? Emang enak nulis itu saat mood lagi up dan suasana mendukung, tapi lebih menarik kalo kita nulis tentang suatu tempat yang kita hadiri, lalu tempat itu adalah yang keren luar biasa.

Seperti yang dijelaskan oleh Mas Gol A Gong dan Mba Tias Tatanka dalam acara Talk Show yang diadakabln oleh KAMDA Banten, dengan tema "Travel Writer Juga Entrepreneur". Pasangan yang saling melengkapi ini berkisah tetang perjalanannya berkeliling negara sambil menginspirasi untuk nulis. Hmmm keren banget dan hal ini bisa menggugah semangat orang yang membaca tulisan mereka, agar bisa termotivasi untuk jalan-jalan juga.

Gak munafik kalo kita menginginkan untuk jalan-jalan keluar kota hingga keluar negeri, tapi kendalanya adalah ya dana yaa dana hehe. Tapi kalo kita niat, kayaknya semua bisa terwujud. Acara yang diadakan di Aula RS. Sari Asih ini menjadi inspirasi buat para pemuda yang hadir, diantaranya para pelajar antusias dari daerah Cikande juga turut serta mendengarkan dengan seksama talk show ini.

Intinya, nulis itu kudu niat dan bukan karena mood juga, tapi karena tempat dan suasanannya yang mendukung juga mengakibatkan inspirasi terus ada untuk dituang ke dalam tulisan yang berarti bagi para pembaca.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hutang Kita Kepada Para Syuhada




"Kesibukan ane sekarang jadi aktivis dakwah kampus aja sih.."
"Dimana, akh?"
"Di wajihah xxx Universitas xxx"
"Subhanallah, ternyata dunia sempit ya.. ane juga sama, sekarang wajihah ane di Universitas yyy juga lagi sibuk urus dauroh ajah.."

Hmm begitulah sedikit perbincangan dari salah dua orang yang bertemu tiba-tiba disebuah masjid saat beristirahat ditengah perjalanan mudik lebaran. Karena merasa ketemu tampang yang nggak jauh beda, akhirnya saling tegur sapa. Sudah biasa rasanya kalau kita juga mengalami hal seperti ini, bertemu dengan sahabat dari beda Universitas namun dengan lebel wajihah yang sama. Itu sudah lumrah.

Tapi ngaku, dan yakin kaya dialog yang "ane sekarang jadi aktivis dakwah" hmmm agak nyerempet kearah yang mengkhawatirkan. Why??? Aktivis dakwah (mau dikampus atau dimanapun), adalah kata yang singkat namun penuh makna ini menjadi sebuah kata trobosan yang kayaknya WAH banget gitu lho. Secara dari kata Aktivis, kita bisa membayangkan betapa aktifnya orang yang disebut aktivis itu dalam setiap kegiatan disebuah lembaga maupun organisasi yang resmi. Dakwah, jika diulas pun akan sangat menguras banyak waktu, karena makna dakwah dari satu kata itu malah kian banyak, jika dilihat dari berbagai sisinya. Aktivis dakwah akan sangat mengkhawatirkan jika dianggap biasa-biasa saja.

Banyak dari kita mungkin yang mengaku bahwa kita aktivis dakwah, baik dalam hati maupun sebuah pengakuan dengan lisan, namun belum paham isi dari konteksnya. Jika kita tersadar, maka mungkin kita akan ingat bahwa hutang untuk menjadi ADK/ADS/ADW (W = wilayah) itu sangatlah bergelimpangan. Apa lagi di Indonesia ini, masih banyak PR besar yang harus kita selesaikan bukan dengan hal yang ecek-ecek, melainkan dengan strategi yang matang dan arah pasti.

Buku-buku yang sengaja saya potret (lihat gambar), itu beberapa bekal untuk menjadikan kita lebih bersemangat dan tau arah (walau belum begitu lengkap dan masih banyak lagi santapan buku sebagai referensi para aktivis). Selain kita ahli dalam menguasai medan, kita juga harus memiliki bekal dan ahli dalam bidang ilmu atau bisa dibilang ini adalah salah satu pemantapan fikroh. Sudah sejauh mana kita menguasai? Apakah kita menyi'arkan islam dengan kemampuan seadanya dan untuk bekal sesaat saja, yang tak bisa menumbuhkan rasa antusias orang lain (yang kita syi'arkan) untuk tetap pada prinsip yang baik?

Tempo hari, saya berkumpul dengan beberapa sahabat di rumah, yang sama-sama gelisah dengan kondisi ummat saat ini. Kenapa saya sebut gelisah? Ya, karena kegelisahan inilah yang terpenting dalam dakwah. Saya sangat khawatir jika men-judge bahwa saya dan kawan-kawan adalah aktivis dakwah, karena sepertinya belum bisa dikatakan pada taraf itu. Kami sama-sama mengulas balik kisah para sahabat dengan kriteria perjuangannya masing-masing, yang tetap konsisten, yang pada dasarnya menempatkan semua karena Allah.

"Sudah sampai mana bacaan manhaj antum? Sudah selesaikah? Atau malah, masih belum selesai sama sekali (a.k.a belum dibaca)?" Tersontak pertanyaan dari seorang sobat itu hadir dalam keceriaan kami dan hanya sunyi yanga ada saat itu. Saat semua menjawab bergiliran, jawabannya nggak jauh berbeda dan penuh tampang malu. "Buku ini baru separo, kalo yang itu udah habis sih tapi itu juga PR dari MR plus syarat ikut dauroh, terus yang lain yaa sama masih separo-separo aja. Mungkin bacanya tergantung mood itu.." santai-santai malu memilukan, jawaban itu pun muncul seketika. Rata-rata jawabannya sama seperti itu. Akhirnya mengundang pertanyaan yang lain.

"Terus antum berdakwah berdasarkan apa? Al Quran dan As Sunnah aja?" ketawa-ketiwi hadir saat itu, namun tetap malu memilukan, huft... Lanjut.. "Antum gimana siap terjun untuk dakwah kalo bacaan antum masih separo-separo? Nanti yang ada mungkin apa yang antum sampaikan separo-separo juga lagi"

Dari pertanyaan yang nyentil itu menghasilkan banyak pemikiran, salah satunya bagaimana terus semangat dan memaksakan diri untuk membaca buku-buku itu, buku-buku yang memang disiapkan untuk mental pejuang dakwah yang sesungguhnya. Pikiran ini terus bercabang-cabang sampai memunculkan banyak ide-ide sederhana namun sepertinya bisa menjadi cara agar perjalanan indah ini terus berlanjut. Mungkin cara-cara yang terpikirkan ini sudah biasa dikalangan orang-orang terdahulu (para senior), namun sekarang, kemerosotan dakwah sangat terasa, bukan di satu tempat, melainkan banyak tempat di Indonesia yang meresakan hal tersebut karena beberapa faktor.

Para qiyadah yang kian sedikit bertoleransi mengingatkan jundi-jundinya akan kesadaran cita-cita bersama ini. Atau malah bekal qiyadahnya pun belum bisa dibilang cukup? Jika kita membayangkan posisi kita seperti saudara-saudara di Mesir yang sedang bergejolak saat ini, mungkin kita akan segera hancur lebur, karena masih mengartikan perjuangan ini untuk formalitas belaka. Masih ada diantara kita yang halaqoh karena untuk menggugurkan keberadaan di wajihah, lalu karena ada teman yang asik, karena ingin cari jodoh, karena untuk kekerenan aja saat berada di wajihah. Sebetulnya bukan itu yang diinginkan oleh para sahabat kepada kita. Kita diajak berkumpul bersama, untuk menumbuhkan pemikiran yang matang, yang jelas arahnya, kita disana diingatkan betapa pentingnya hidup antum untuk orang lain dan antum harus menguasai setiap ilmu untuk menjadi senjata ampuh, kita juga diingatkan bahwa setiap kita adalah pemimpin yang akan memajukan ummat. Jika dalam halaqoh saja hati-hati kita belum menyatu satu sama lain, maka bagaimana untuk menyatukan seluruh hati ummat muslim se-Tanah Air ini? Apa kabar Rabithah kita?

Apakah dakwah kita masih ecek-ecek? "Kalo nggak ada si ukhti, ane nggak mau dateng ah.. males nggak ada temen yang bisa diajak ngobrol" atau "Kalo ada si akhi, ane males dateng ke kajian lah, males ketemu dia" Itu kah dakwah kita? Mau beramai atau sendiri kita harus siap. Jika masih ada pemikiran cetek seperti itu, tak dipungkiri bahwa dakwahnya masih seujung rambut, belum sampai akar-akarnya dipahami. Astaghfirulloh.. Inikah kemerosotan ummat? Jika kita masih merasa, "ah kayaknya ane nggak kaya begitu, malah ane yang bergerak sendirian, ane masih bisa ko, tapi mereka itu mbok yaa sadar gitu lho.." Bagus kalo kita masih sadar dan bisa bergerak walau sendiri, tapi apakah dalam kesendirian mempercepat pergerakan? Atau hanya melejitkan nama saja? Sudahkah dengan kesungguhan mengajak kawan untuk sama-sama berbagi dengan yang lain? Atau mengandalkan secarik sms JARKOM atau TA'LIMAT yang kian diabaikan keberadaannya? Sudahkah bicara dari hati kehati?

Banyak sekali kekhawatiran, sampai diri ini pun bertanya "Ya Allah, sesungguhnya sudah sampai mana taraf dakwahku ini? Apakah aku pantas dikatakan seorang aktivis dakwah? Ataukah aku masih setaraf dengan orang yang aku dakwahi? Berikan hidayahMu, dan jika memang pantas, jadikanlah aku salah satu penggerak keluarga, sahabat, adik-adik dan orang-orang disekitarku dalam berislam.."

Para syuhada bukanlah orang yang ecek-ecek, para syuhada adalah orang-orang pilihan Allah, para syuhada adalah penggerak yang tangguh dan mengayomi setiap langkah untuk kesejahteraan ummat. Para syuhada adalah yang tak pernah takut untuk mati dalam kondisi berjihad, para syuhada adalah insan yang yakin akan bertemu Allah jika mereka menyerahkan seutuhnya kepada Allah. Mental mereka adalah mental baja, fikroh mereka adalah fikrohnya fikroh. Apakah kita sudah sampai pada titik itu?

Ikhwah fillah, ini mungkin hanya segelintir jeritan hati yang ingin segera terluapkan dengan pasti. Entah output apa yang akan diterima, namun harapannya sebuah pergerakan nyata. Saya hanya ingin kita disini sama-sama berpikir, sama-sama memuhasabahkan diri bahwa, sudah sampai mana posisi dakwah kita hari ini? Jika kita sangat menikmati keleha-lehaan dihari ini, maka sampai kapan perubahan yang diimpikan itu tercapai? Ataukah impian bangkit itu sama sekali tidak pernah ada didiri masing-masing kita? Jika itu yang terpikirkan, maka hutang kita pada para syuhada untuk meneruskan perjuangan mereka akan kian menumpuk, mungkin hingga membusuk.

Wallahu'alam bishowab..



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pengaruh Gadget saat Lebaran



Nggak tau kenapa lebaran kali ini malah diwarnai dengan sama-samaan gadget, malah sampe saing-saingan gadget. Mungkin emang ini kali ya yang dinamakan perkembangan zaman? Tapi kaya agak nggak seru gimanaaaa gitu..

Hari pertama lebaran itu kerumah budeh (kakaknya papa), kebetulan nenek lagi ada disitu. Disana ada para sepupu yang riwayatnya emang kebanyakan cewe daripada cowo. Huuu pokoknya dandanan ala lebaran ditanpilin kece deh... Udah salaman, udah maaf-maafan. Eh ko ada yang beda, nggak kaya dulu. Dulu biasanya kalo abis samalan dan maafan kita langsung curhat-curhat gitu tentang apa aja deh. Namanya juga udah lama gak ketemu gitu kan. Tapi tetiba mereka langsung duduk manis dan rapi (bejejer kaya ikan pepes dijemur) dan fokus sama gadget masing-masing. Huft...makin ngikutin zaman ternyata -_-

Aye emang seneng juga sih ber-gadget ria, tapi kalo wayahnya ketemu sodara ya bicara lah nyata. Haha.. Agak kesel sih, tapi yaudah lah.. Malahan sering kejadian, udah ketemu tatap muka, eh malah ngobrol via twitter. Oh Em Jih banget kan -___-

Selama ini kita memang sudah sangat terpengaruh sama yang namanya gadget, sampe-sampe, kalo lupa dibawa tuh gadget, langsung deh berasa gak bawa nyawa 9. Semoga apapun gadgetnya gak mempengaruhi kualitas silaturahim yang sesungguhnya, karena, terlalu saklek sama gadget juga bukan pilihan yang tepat.

Wallahu'alam



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menatap Wanita Indonesia




Ini salah satu tulisan Hestu yang tembus dalam perlombaan Artikel se-Untirta yang diadakan pada momentum Hari Kartini dan Alhamdulillah dapat juara pertama. Yang penasaraan, ayo dibaca :)


Tema              : Perspektif Mahasiswa Dalam Emansipasi Wanita di Era Globalisasi
Judul              : Menatap Wanita Indonesia
Karya             : Hestu Subhika Garindi – Ilmu Komuniasi (Humas 4D)
Perihal            : Lomba Artikel

Sepertinya tak akan pernah habis manakala kita bahas persoalan yang dialami wanita, dari mulai ujung rambut hingga kaki pasti ada saja yang dapat diperbincangkan, tak jauh berbeda jika kita mengarah pada pandangan yang mengacu dalam proses pembebasan seorang wanita, khususnya wanita Indonesia. Wanita yang selalu berjuang adalah wanita yang kuat, wanita kuat yang sangat dikenal dalam perhelatan juang di Indonesia adalah Raden Ajeng Kartini. Sosok sederhana namun bisa menginspirasi dan mendobrak sistem yang dibuat oleh penjajah yang tidak diperbolehkannya pendidikan masuk dan mengalir pada darah seorang wanita.

Emansipasi yang di canangkan, sebagai bentuk penghormatan sosok wanita yang lebih berarti untuk kehidupannya. Jika kita tengok lagi tentang emansipasi (eman.si.pa.si) yang dalam Kamus Bahasa Indonesia berartikan; pembebasan dari perbudakan, persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria). Emansipasi memang tak jauh dari pendengaran kita, namun banyak yang mengartikan sebagai kesetaraan jender, mungki itu terlalu berlebihan. Jika kita menyimak dan menganalisa arti emansipasi yang telah dibahas oleh Kamus Bahasa Indonesia, maka kita harus tau bahwa yang dimaksud persamaan hak adalah dalam mendapatkan pendidikan, seperti apa yang telah dirancang oleh RA. Kartini. Dari mendapat pendidikan, seorang wanita dapat  menjadi faham arti sebuah kehidupan, harus apa ia dalam hidup ini dan bagaimana menghadapi hidup ini, karena dalam mengemban bangku pendidikan maka sosok manusia dapat mengaplikasikan dan lebih cepat untuk mengenal dunia dengan ilmu yang didapatnya.

Usaha RA. Kartini memperjuangkan hak wanita Indonesia dalam memliki bekal ilmu, sangat menghasilkan hingga saat ini. Jika kita mengingat kembali faktor adanya emansipasi, karena wanita dulu atau pada zaman kolonial hanya boleh berkriteria 3R (kasur, dapur, sumur) tanpa boleh berpendidikan layak. Jika kita telusuri lagi, sosok wanita adalah sosok yang tak dapat dipungkiri dapat mengubah suatu kecil menjadi hal yang lur biasa, wanita dapat mengerjakan tiga kegiatan sekaligus disaat pria hanya bisa melakukan satu kegiatan saja. Wanita pun bisa menjadi dalang dalam membantu pasangan hidupnya saat melancarkan kegiatan pasangannya yang (semisalnya) menjadi seorang kepala daerah atau presiden, maka saat itu pula kekuatan seorang wanita memberi masukan dan mencari cara agar pasangannya tetap aman, dan membimbing anak-anaknya menjadi manusia yang unggul adalah faktor yang membuat penjajah takut, akhirnya malah mengorbankan kesengsaraan ilmu pengetahuan bagi wanita.

Sangatlah berbeda jika kita membandingkan antara wanita dulu dengan saat ini. Dari gaya, bahasa, cara berkarya, pandangan, polemik dan cara menyikapi bangsa itu sangatlah berbeda. Khusunya pandangan mengenai emansipasi wanita. Dalam praktiknya, wanita saat ini lebih condong pada bagaimana cara mereka menjadi sosok yang dapat berguna, terutama dalam menghasilkan sesuatu yang membanggakan dan membahagiakan hidupnya.

Pengakuan wanita yang dulu dijadikan budak dari pria yang di mindset era kolonial dan tidak boleh melakukan sesuatu selain 3R, berbalik pada era globalisasi ini yang lebih mengacu pada peradaban yang lebih berkualitas. Semisalnya saja, wanita saat ini dapat menjadi dokter diberbagai Rumah Sakit di Indonesia, menjadi guru-guru terbaik, menjadi pengamat dan psikolog handal, yang tak tertinggal bahwa 30% wanita telah diakui dan dipercaya menjabat sebagai bagian dari pemerintahan Indonesia. Masih banyak lagi yang dilakukan wanita saat ini,  apa yang dilakukan dan diimpikan wanita dapat terwujud dengan ilmu yang ia miliki, bukan hanya menjadi ibu rumah tangga semata. Walau pada hakikatnya wanita bertugas menjadi seorang ibu dan mematuhi apa yang diperintahkan pasangannya dalam menentukan urusan keluarga dan lainnya.

Telah terlihat dan terbukti bahwa emansipasi pada era globalisais membuat wanita lebih sukses dalam berkarya, apalagi jika ia memiliki tekad yang kuat, akan terealisasikan nyata. Emansipasi pada zama RA.Kartini yang kita tau sebagai masa pembebasan wanita dari kebodohan, sangatlah menghasilkan. Walau pada faktanya banyak orang yang mengartikan salah terhadap emansipasi yang dianggap kesetaraan jender. Mungkin jika RA. Kartini masih hidup, ia akan marah saat tau khalayak mengartikan emansipasi sebagai wadah untuk menjajarkan kaum wanita dan pria, karena sampai kapanpun, peran wanita akan berbeda dengan pria, mulai dari hak dan kewajibannya hingga kebutuhan sehari-hari.

Pelurusan pandangan dari paradigma masyarakat Indonesia sangat penting dilakukan, agar tidak adanya penyelewengan hak yang beralasan bahwa ini semua karena emansipasi. Wanita yang berkarya adalah wanita yang dapat menyeimbangkan kualitas pribadi mereka, membangun pandangan bahwa wanita pun bisa melakukan hal yang memang dapat dilakukan oleh wanita. banyak sekali yang dapat diaplikasikan oleh wanita, seperti yang dibahas sebelumnya bahwa wanita akan mampu melakukan tiga pekerjaan sekaligus, mengurus apa yang tak bisa dilakukan pria dan menjaga apa  yang harus ia jaga. Hakikat wanita yang kuat luar biasa inilah yang memicu peradaban wanita sangat gesit dan tanggap dengan siatuasi apapun.

Positif yang dapat diambil haruslah lebih banyak ketimbang negatifnya, hanya saja kita tak boleh melupakan negatifnya yang dapat mengintrospeksi diri. Jika kita melihat positif dari emansipasi era globalisasi ini, maka negatifnya pun tak akan pernah luput. Negatifnya, dalam kebebasannya, wanita saat ini ada saja yang memanfaatkan emansipasi sebagai ajang memamerkan kemampuannya dengan cara yang tidak baik. Diskriminasi acap kali dilakukan untuk memuaskan diri agar dirinya dapat menjadi sosok yang diagungkan, kehormatannya dapat terenggut sadar maupun tidak ketika ia ingin menggapai impian yang jalannya dengan cara diluar batas normal. Lupa pada arti dasar emansipasi, sulit memahami maksudnya, sehingga pada aplikasinya terkadang tak sesuai dengan seharusnya. Untuk itu wanita Indonesia haruslah memahami perspektif emansipasi, agar tidak memanfaatkan kata pada jalur yang salah, sehingga bisa menjaga dirinya untuk lebih normal dalam hidup dan menghidupkan.

Menjadi kebanggan jika wanita Indonesia faham dengan apa yang harus ia lakukan, meletakan kodrat dengan seharusnya, berperan menjadi wanita yang tau tempat dan tau mengapa ia harus hidup di dunia ini. Sosok wanita Indonesia akan lebih sempurna jika pemahaman terus dicari dan ilmu yang baik untuk memanfaatkan kemampuan bisa diasah yang menghasilkan karya baru yang membanggakan. Hingga kini, pengaruh emansipasi menjadikan sosok wanita Indonesia terus berkembang setiap waktunya dan menjadi salah satu faktor pengaruh peradaban bangsa.

Habis gelap terbitlah terang, tak pernah lekang oleh zaman...



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mengungkap KAMMI Unitrta



Hari ini mungkin akan menjadi sejarah yang sangat spektakuler dalam hidupku, bertemu dengan Ketum KAMMI Untirta dari periode awal hingga saat ini, walau yang saat ini sudah sering bertemu (bosan #eiits :D). Mungkin memang tidak semua hadir, namun sudah bisa menginspirasi pikiranku ini, sehingga ingin segera melakukan sesuatu.

Banyak cerita unik dan luar biasa dari para orang-orang hebat yang ada diruang imut Aula PKM B atas tadi, padahal panas tapi tak terasa, malahan rasanya waktu yang lama terasa sangat kurang untuk dipakai berdiskusi dan sharing mengenai KAMMI. Benar-benar menginspirasi. Ada yang berkisah bahwa dahulu suka menulis lalu dikirim ke koran, ada yang berkisah memasang bendera di almarhum pohon ketapang depan masjid, hingga menemui para pejabat yang merampas hak rakyat dengan cara-cara jitu.

Cuma kata K.E.R.E.N yang ada di otak ini manakala mengingat kisah-kisah yang telah terlampir dalam waktu yang tak begitu luang. Hmmm... harapan pasti langsung mendesah kesetiap aliran darah untuk segera diwujudkan. Intinya mah tekad yang kuat untuk mencapai impian bersama, dan Allah menjadi tumpu tujuan yang utama. Pengalaman yang lucu membuat tawa, pengalaman yang membangkitkan ubun-ubun membuat kami berdecak kagum. Sampai ada kesimpulan bahwa setiap tahun, setiap generasi akan menorehkan sejarah yang berbeda, semangat yang berbeda dan impian yang berbeda, walau tujuan tetap satu: "Bergerak Tuntaskan Perubahan".

Allahumma yassir walaa tu'assir terus terngiang jika melihat langkah KAMMI, apapun yang dilakuakn pasti tujuannya tetap satu. Walau tak jarang ada yang merasa aneh dengan teguran-teguran singkat dari beberapa kawan yang sama-sama berjuang, tapi itulah ukhuwah, saling mengingatkan. Banyak kisah yang terukir, sampai lupa seberapa banyak pengorbana yang dilakukan, itulah ikhlas. Sampai pada detik ini, hidayah, cinta, pengorbanan, motivasi haruslah terus mewarnai untuk bersatunya organisasi besar ini. Tak heran manakala KAMMI disorot, namun heranlah saat KAMMI tak memiliki sorotan. Teruslah bergerak, menuntaskan perubahan. Jangan pernah takut menjadi lelah, jangan pernah resah hingga futur etah kemana, karena jika kita tulus dan ingin terus ikhlas dalam jalan dakwah ini, InsyaAllah apa yang kita usahakan tak akan pernah sia-sia. Yaumiyyah pun tak boleh berhenti menemani hari-hari, apalagi hingga kosong, na'udzubillah...

Semangat itu memang harus dicari, bukan ditunggu. Jika kita bertemu dengan semangat yang dalam bentuk lembut hingga kasar, maka yang akan terjadi adalah efek samping yang luar biasa. Manakala semangat sudah mendarah daging, maka apapun rintangan tidak akan ampuh dalam memusnahkan tekad. Saking tak mengerti apa yang harus dikatakan untuk pejuang-pejuang KAMMI Untirta, sampai kata-kata yang terungkap seringkali tanpa makna yang jelas. Hahh.. inilah aku, yang sedang kagum terenyuh dalam kisah para pejuang yang kini aku terlibat didalamnya. Walau tak jarang aku merasa jenuh atau aku merasa tak punya guna yang pasti didalamnya. Aku tetap berusaha, terutama berusaha profesional dalam dakwah ini.

Perlu diingat, bahwa kita tak pernah sendiri, musti belajar dari sejarah, tanpa sajarah tidak akan ada teori dan retorika. Apapun dan sampai kapanpun, semoga kita semua terikat dalam perlindungan hidayah dan ukhuwah dariNya. Semoga, semoga dan semoag harapan kita bisa tercapai dan jangan berhenti berharap, karena harapan itu akan selalu ada jika kita ingin menyertainya.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

I think ADK is.....




Sudah lama rasanya tangan ini tak menyentuh catatan yang biasanya dahulu ku tinggalkan di blog ini. Mungkin karena kesibukan yang aku alami saat-saat ini. Tapi kali ini aku ingin sekali melepas rinduku untuk bercerita sedikit tentang pengalaman yang akan dikupas, walau ini hanya menurut pandanganku saja tetapi sangat ingin sekali berbagi cerita tentang yang kali ini aku pikirkan.

Aktivis Dakwah Kampus atau biasa disingkat ADK, adalah sebutan untuk sekumpulan orang yang mendelegasikan dirinya untuk bergabung dan berdakwah bersama di suatu lembaga. Ini salah satu pengalaman baruku di kampus. Kegiatannya tak jauh berbeda dengan pengalamanku di sekolah saat aku berada di Rohis yaitu bersama-sama membuat agenda lalu menjalankannya juga bersama-sama dan memiliki tujuan untuk kebaikan ummat islam. Tetapi ada banyak perbedaan yang aku rasakan, walaupun tampilannya tak jauh berbeda dengan Rohis.


Sebelum bahas jauh tentang ADK, apa yang kau pikirkan jika mendangar kata "Dakwah"? Kalau aku sudah pasti akan membayangkan sebuah amanah yang besar, lalu ada seorang da'i yang sedang berbicara didepan orang banyak, berkeliling kemana-mana dan menebar hal kebiakan. Ya memang tak salah juga berpikir seperti itu, tetaoi dakwah bukan sekedar itu, dakwah adalah hal yang luar biasa juka dilakukan. Kerjaan berdakwah adalah memikirkan orang, memikirkan ummat dan generasi selanjutnya. Memikirkan teman disamping kita, memikirkan kehidupan saudara/saudari kita dan memikirkan bagaimna islam terus berjaya. Intinya menyebarkan islam secara kaffah tetapi tetap asik untuk dijalankan, karna faktor globalisasi yang menyebabkan banyak orang islam yang asing dengan keislamannya sendiri.

Jika harus membedakan kegiatanku di sekolah dengan di kampus saat berdakwah sangat terasa perbedaannya, yaitu kesibukan dan jadwal kuliah yang berbeda mungkin salah satu dari sekian banyak faktor perbedaannya. Ya, schedule yang menjadi perbedaan, jika di sekolah setiap schedule pelajaran itu sama dari mulai masuk hingga pulang, jadi menyesuakan untuk rapat dan mengadakan suatu acara itu tak sulit walau dulu juga sempat merasa tak mudah. Tetapi di kampus, kita harus bisa menyesuaikan waktu kuliah dengan agenda yang ditetapkan. Satu sama lain harus saling memeahami, urusan waktu sangat diutamakan, jika lebih banyak yang tak bisa kumpul untuk rapat dibanding yang bisa yaaa otomatis rapat dipindah jadwalnya. Tetapi setiap agenda bisa tetap berjalan dengan mulus, hebat ya :)

Kesulitan selain penyesuaian waktu, hmmm ada lagi seperti pertemuan dengan teman-temannya diluar agenda rapat atau acara lainnya pun biasanya tak semudah waktu sekolah yang jam istirahatnya sama. Jadi kita harus benar-benar mengikat tali ukhuwah, siqoh dan sering sms/telpon untuk menjalin silaturahim dengan teman-teman ADK. Total kepercayaanpun harus ditingkatkan, lalu tanggungjawab yang tinggi juga harus dilakukan, agar bangunan organisasi yang sudah lama dibangun oleh kakak-kakak terdahulu bisa terus diwariskan sampai kapanpun.

Tapi Allah memang Maha Mengetahui dan Maha Pengertian, disaat moment tertentu tiap harinya ada saja aktu dimana aku bisa bertemu dengan teman-teman ADK walau hanya beberapa menit saja. Misal saat waktunya sholat dzuhur, ashar dan maghrib atau saat kita sama-sama puasa sunnah dan akhirnya buka puasa bersama di teras masjid, itu indaaaah banget.

Oiya, di kampusku hmmm mungkin dikampus teman-teman juga ada sebuah peraturan yang menurutku ini baru. Salah satu peraturan yang kalau dirasa sepele tetapi makna dan manfaatnya amat dalam, yaitu kami para ADK yang bukan mhrim (anatara ikhwan dengan akhwat) pada saat ba'da Isya sampai subuh kita diamanahkan untuk tidak berkomunikasi via sms, telpon, facebook dan alat komunikasi lainnya. Terkecuali ada masalah yang genting/darurat, ada kabar-kabar yang harus disegerakan atau sekedar menjarkom saja. Itulah 1 hal baru yang kecil tetapi berdampak besar bagiku, karena hijab bukan dijaga saat di kampus saja namun via alat komunikasi pun harus tetap menjaga hijab. Hijab bukan hanya menutup aurat melainkan menjaga seluruh apa yang kita punya, dan cara ampuh ini adalah tools agar semua tetap terjaga, agar tidak adanya penyakita hati yang biasa kita tahu dengan VMJ (virus merah jambu).

Sungguh keren kalau kita benar-benar menjalaninya. Dari teman-teman ADK masih saja ada yang khilaf, mungkin termasuk saya. Tetapi subhanallahnya terus ada yang mengingatkan, dan disitulah aku selalu berpikir "be grateful" karena ternyata Allah dekat denganku. Mungkin saja bagi teman-teman ADK yang faham menganggap bahwa hal ini biasa saja, sekedar menjaga, tetapi tak dapat dipungkiri bahwa jika kita sedang alfa maka kita merasa terbawa dan menganggap berkomunikasi di jam yang dilarang itu biasa saja.

Awalnya aku rasa perlakuan ini sungguh berlebihan dan aku pikir bahwa semua itu tergantung orangnya, tetapi jika aku gali lebih dalam lagi ternyata aturan itu lebih besar manfaatnya dibanding mudaratnya. Sebagai seorang muslimah sudah sepatutnya kita lebih menjaga dan merapikan akhlak kita. Jangan sampai saat Allah memberi dan menjaga hidayah untuk kita malah kita sendiri yang tidak bisa menjaganya naudzubillahimindzalik. Semoga kita semua terhindar dari ancaman dunia dan menjadi makhluk yang selalu sadar saat waktunya untuk bertaubat, saat hidayah terus mengalir, saat keistiqomahan kian memuncak, saat ukhuwah terus mengencang dan saat keimanan terus ada dalam diri kita. Aamiin...

ADK bukanlah kata yang enteng karena ADK adalah gelar yang berat, membawa nama Dakwah yang tak lain untuk mensejahterakan ummat muslim, itu menurutku tidak mudah. Teringat pada saat ada pemateri yang bertanya "siapa disini yang merasa ADK?" alhasil yang mengangkat tangan bisa dihitung dengan jari karena masih banyak yang sebenarnya mereka ADK namun jika mengingat arti ADK itu sendiri sungguh merasa "impossible for me". Walaupun mereka telah banyak memegang amanah, walaupun mereka telah sering berdiskusi dan bertemu dengan ADK lain. Karena Aktivis Dakwah Kampus hal yang sulit walau terlihat mudah dan indah. Namun aku percaya bahwa Allah selalu meluruskan dan memudahkan jalanku untuk terus berukhuwah dalam ranah yang diridhaoiNya. Jika kita percaya pada diri kita bahwa kita bisa melakukan hal yang terbaik maka insya Allah sang Maha Pencipta akan menjaga kita dalam kebaikan Aamiin.

Ikhwah fillah yang dirahmati Allah SWT, mari kita menjaga kebersamaan kita dalam kebaikan ini, dalam jalan dakwah ini, karena Rasulullah telah menitipkan warisan ini untuk terus kita lakukan. Dakwah adalah cinta, dan cinta akan meminta semuanya dari diri kita. Nikmati, resapi dan jaga cinta kita pada Allah, agar kita pun bisa tetap dijaga oleh cintaNya.

So, I think ADK is the word very extraordinary....

Wallahu'alam bi showab....



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

UKHUWAH vs SAHABAT




 ukuwahVSsahabat



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Godaan Syaitan Mulai Nyelonong (¬_¬)



Hari ini banyak rasa yang terluapkan pada suatu aplikasi kehidupan. Rasa takut, aneh dan sebuah penyesalan pun muncul mengitari rangkaian agenda hati hari ini. "Kok begini?" Sempet kaget ngeliat soal UTS yang tadi diberikan sang Pengawas berparas cantik dengan dress warna cream dan celana hitam panjang selayaknya pekerja kantoran. Sebelum saya mengisi semua, saya membaca semua soalnya dari nomor 1 sampai nomor 3. "Apaan nih? Masya Allah yang nomor 2 belom baca materinya lagih". Dengan tampang santai tapi hati keringetan saya mencoba mengukir sedikit demi sedikit pendapat saya pada nomor 1, semuaaaaaa saya ungkapkan. Kata-katanya sebetulnya gak banyak tapi dibawa muter-muter aja biar banyak hehe.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Yakin !



Dari post title di atas udah mencerminkan banget bahwa saya yakin akan membahas tentang yakin karena yakin membuat kita lebih yakin dengan keyakinan yang kita miliki sekarang ini. Tetapi ngomong-ngomong masalah yakin, saya jadi teringat tentang teman saya sewaktu dibangku SMA Yakin namanya. Ia selalu yakin kalau ia bisa menjadi penghibur (pelawak gituh maksudnya hehehe), dengan keyakinan itu dia bisa meraih prestasi dengan baik dan karena yakin juga ia menjadi terkrnal pada masanya.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS