Merdunyaaaaaaa........



Subhanallah...
alam ini menawarkan banyak sekali keindahan, sampai-sampai kita sendiri sering bingung untuk memilih tempat rekreasi yang cocok untuk di datangi. Itulah nikmat yang ALLAH.Swt berikan kepada kita hingga kita sendir tak sanggup untuk memikulnya sendiri. sampai-sampai nikmat dan indahnya alam ini dan mungkin sesuatu di sekitar kita. Kita jadi sering lupa dengan hukum-hukum di dunia yang seharusnya seperti apa. Kita lupa kegiatan sehari-hari seperti ibadah kepada ALLAH.Swt dan perbuatan baik dan terpuji lainnya hanya karena hal sepele, yaitu mengingkari nikmat ALLAH.Swt dengan mengumandangkan suara (wanita) untuk di perlihatkan kepada banyak orang.

Ini sering sekali terjadi, karena menurut dari sebagian kita, suara wanita itu adalah bukan aurat. Memang suara wanita bukan aurat untuk kalangan atau saat kita berbicara atau mengobrol biasa, tapi jadi aurat manakala kita gunakan untuk bernyanyi dengan riang gembira di depan orang yang bukan muhrim bagi kita.

Al-Qur'an dalam surat An-Nur ayat 31 n' Al-Azhab (ane lupa ayatnya). Kedua ayat dan surat tersebut sangat sederhana bila di pandang dan di baca, tetapi sangat sulit di laksanakan bagi orang yang sering melakukan aktivitas di luar islam.


Kenapa sihh kita (wanita) tidak boleh bernyanyi ?

Dulu, sewaktu zaman Rasulullah, Rasulullah pergi ingin menuju ke suatu tempat. Tapi di tenagh perjalanan Rasulullah mendengarkan suara indah dari 1 tempat. Akhirnya Rasul mencarinya dan ternyata itu sebuah tempat makan yang di situ pun ada tempat untuk istirahat dan segala macam.

Tapi saat Rasulullah masuk ditempat itu, tempat yang mungkin kalau zaman sekarang di bilangnnya Club malam (Rasulullah saat itu tidak tau), Rasulullah duduk dan tiba-tiba dia segera di tidurkan oleh ALLAH.Swt hingga akhirnya Rasulullah tertidur pulas hingga subuh. Dan kejadian itu berulang hingga 3 kali. Akhirnya dari situ Rasul menetapkan bahwa sesuatu dari hal yang menggiurkan salah satunya adalah "Bernyanyi" untuk wanita itu sangat di larang. Tak terkecuali bernyanyi religi.

So, untuk kita semua jangan sampai kita terpengaruh oleh jalan jaman sekarang, karena semua itu hanyalah gambaran tipu daya syeitan.
Good Luck for all. La Tahzan. Karena Harapan Itu Selalu Ada untuk Kita... Amin...

Chayooooo.... ^_^



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ayanqushul Islamu Wa Ana Hayyun



Segala puji hanya bagi-Mu ya Allah yang maha memiliki segala kekuatan yang tidak pernah kantuk dan tidak akan pernah tidur, yang meniupkan ruh daya hidup pada seluruh mahluk-Mu, yang menganugrahkan hamasah ( semangat ) dan militansi serta daya juang kepada siapapun yang Engkau kehendaki dan tidak akan pernah berhenti, kecuali Kau telah mengambilnya kembali

“ Hai orang-orang yang beriman, Bertaqwalah Kepada Allah dan

hendaklah setiap diri Memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk

hari esok ( akhirat ), dan bertaqwalah Kepada Allah, Sesungguhnya

Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan….”( Q.S :Al-Hasyr : 18 )

Saudaraku di Jalan Allah …

Wahn ( Lemahnya ruhiah dan ruhaniah kita akibat pengaruh besar keduniaan ) telah melelahkan tapak-tapak kaki kita dalam menaiki tangga kemulyaan, memperkecil nyali kita dihadapan kemungkaran dan kemaksiatan, merenggangkan kerekatan hangatnya ruh persaudaraan, bahkan meredupkan pancaran cahaya Hubbus Syahadah ( Cinta Syahid ) yang menjadi cita-cita setiap pejuang.

Saudaraku di jalan Allah…

Dhof ( lemahnya fisik kita akibat kuatnya pergumulan dengan materi) menempatkan kita pada derajat dholimun linafsih, banyak berbuat aniaya diri, membangun kokohnya akhirat kita hanya dengan mengandalkan sisa-sisa dari dunia kita, berkeinginan menyelesaikan tugas-tugas besar dengan mengandalkan sisa-sisa waktu kita , merindukan ridho Allah hanya dengan mujahadah (kesungguhan ) sekedarnya.

Saudaraku di jalan Allah …

bila ini adalah haliyah ( kehidupan ) kita, akankah pertolongan Allah dapat kita raih ? akankan kemenangan dan futuh ( Kebebasan ) yang dijanjikan Allah dapat kita petik ? alangkah pekatnya wajah kita disisi Allah kelak,…dan alangkah hinanya diri kita disisi-Nya..ya Allah ampuni hamba-hamba Mu yang lemah ini …karuniakan pada kami panasnya iman yang mampu membangkitkan hamasah kami untuk mampu bermujahadah dengan penuh kesabaran…

Saudaraku di jalan Allah …

merenungilah kita dengan segala keinsyafan diri …tataplah wajah-wajah kita, cermatilah diri kita dan amati dengan seksama segala cela kita dihadapan cermin penyadaran rabbani berikut ini.

“ Dan banyak para nabi yang berperang bersama-sama mereka

sejumlah besar pengikutnya yang bertaqwa, mereka tidak lemah moralitsnya

dengan apa yang dialaminya dengan jihad dijalan Allah, tidak lemah fisiknya dan

tidak pula terbersit sedikitpun rasa pesimis yang mendorongnya untuk menyerah,

Allah mencintai orang-orang yang sabar …

…” tak ada yang mereka ucapkan selain permohonan mereka : Ya Rabbana ampunilah dosa-dosa kami dan sikap kami yang melampaui batas dalam segala urusan kami, kokohkanlah ya Allah pendirian kami, karuniakanlah ya Allah pertolongan-Mu pada kami dalam menghadapi orang-orang kafir “

( Qs 3 : 146-147 )

Saudaraku di jalan Allah …

inilah sosok hamba Qur’ani untuk kita bercermin kepadanya, dengan kekuatan rabani ia tampil ditengah kelesuan semangat, ia kumandangkan gelora hamasah Ayanqushul Islamu Wa Ana Hayyun ( Akankah da’wah Islam ini melemah sedangkan saya masih hidup ) semoga ridho Allah senantiasa tercurah kepada sahabat & Salafus Shaleh.

Saudaraku …Dimana Kita…?



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ibu, Sang Arsitek Peradaban



Suatu malam yang tenang dan hening. Semua orang telah beranjak ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Menarik selimut hingga terlindungi dari hawa dingin yang melingkupi cakrawala Madinah. Namun, seorang laki-laki yang disadarkan oleh rasa tanggung jawab sebagai pemimpin menyingkap selimutnya. Dia keluar menyusuri lorong-lorong Madinah yang mencekam. Merayapi jalan-jalan yang sepi dari tapak kaki manusia.

Dia keluar seorang diri menembus kegelapan malam. Barangkali ia menjumpai musafir yang tidak menemukan tempat bermalam. Atau orang yang merintih kesakitan. Atau orang lapar yang belum menemukan sesuap makanan untuk mengganjal perutnya. Barangkali ada urusan rakyatnya yang luput dari pengawasannya. Atau mungkin ada domba yang tersesat jauh di pinggir sungai Eufrat. Allah akan menanyakannya dan menghisabnya kelak.

Jangan heran! Lelaki tersebut adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab RA.

Setelah sekian lama mengitari Madinah dan mulai merasakan lelah pada sendi-sendinya, Umar bersandar pada salah satu dinding rumah kecil di pinggiran kota Madinah. Dia beristirahat sejenak sebelum melanjutkan langkahnya menuju masjid.
Kala itu, sayup-sayup terdengar olehnya suara dua orang wanita dari dalam rumah kecil tempat ia bersandar. Percakapan seorang ibu dengan putrinya. Percakapan dimana sang putri menolak untuk mencampur susu perah dengan air putih.
Sang ibu berkata, “Campurlah susu itu dengan air!”

Sang putri menjawab, “Sesungguhnya, Amirul Mukminin telah melarang kita untuk mencampur susu dengan air. Tidakkah Ibu mendengar juru bicaranya menyampaikan larangan tersebut?”

“Umar tidak melihat kita. Dia tidak akan tahu apa yang kita lakukan di saat-saat terakhir malam ini.” Jawab ibunya.
Putrinya pun menjawab seketika, “Wahai Ibuku, walaupun Umar tidak melihat namun Tuhan Umar melihat kita. Demi Allah, saya tidak akan melakukan apa yang dilarang-Nya.”

Ucapan putri tadi menyejukkan hati Umar. Jawaban yang menggambarkan kejujuran dan keimanan.
Akhirnya Umar menikahkan putranya, Ashim, dengan gadis yang baik itu. Gadis itu bernama Ummu Ammarah binti Sufyan bin Abdullah bin Rabi’ah Ats-Tsaqafi. Kelak ia akan melahirkan dua anak gadis yang diberi nama Laila dan Hafshah. Laila kemudian dikenal dengan panggilan Ummu Ashim.

Ummu Ashim kemudian menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan, seorang gubernur Bani Marwan. Dari pernikahan yang suci ini lahirnya seorang khalifah yang mulia, Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz yang berjuluk Khalifah Kelima adalah pemimpin yang sang bersahaja. Tingkat keimanannya tidak perlu diragukan lagi. Umar hafal Quran sejak kecil. Matanya selalu banjir air mata karena rasa takutnya pada Allah.

Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, tidak ada yang menjadi mustahik. Tidak ada orang yang berhak menerima zakat. Rakyatnya hidup makmur dan sejahtera. Sementara Umar hidup sangat sederhana.

Apa yang menjadikan Umar memiliki pribadi yang begitu luar biasa? Ummu Ashim, ibunda Umar, mendidiknya sejak kecil dengan penuh kasih sayang. Mengajarkan Umar Quran dan cinta pada Allah. Ia selalu menjaga dan mengawasi putranya.
Ummu Ashim juga dikenal sebagai wanita yang sangat dermawan dan menyayangi orang-orang yang lemah. Ummu Ashim mewakili gambaran ideal tentang sosok seorang ibu. Demikian juga ibunda dari Ummu Ashim. Rasa takutnya pada Allah menjadikannya pribadi yang unggul.

Keteladanan wanita-wanita tersebut menjadi bukti vitalnya seorang ibu dalam membentuk sebuah generasi. Seorang penyair mengungkapkan bahwa ibu adalah sebuah sekolah. Apabila dipersiapkan dengan baik, berarti telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.

Tidak berlebihan tentu saja. Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu bagaikan wadah yang mengajarkan dan mendidik berbagai macam ilmu dalam kehidupan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Sebagai pendidik awal, ibulah yang pertama kali meletakkan fondasi dasar –terutama dalam aspek keimanan- kepada anak dalam proses pendewasaan mental dan pematangan jiwa.

Gambaran pentingnya tugas seorang ibu tercakup dalam pernyataan yang diungkapkan oleh DR. A. Madjid Katme, Presiden Asosiasi Dokter Muslim di London dalam konferensi dunia tentang wanita di Beijing. Berikut tuturannya :

“Tugas keibuan adalah pekerjaan yang paling terhormat dan membutuhkan keterampilan di dunia ini. Dan terlaksananya tugas ini sangat penting bagi pemeliharaan dan perlindungan anak terutama di masa-masa awal pertumbuhannya. Tak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya. Dan tak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuan tersebut.”

Namun, begitu banyak muslimah yang kurang bahkan tidak memahami pentingnya peran seorang ibu. Peran yang, menurut Katme, tidak bisa digantikan oleh siapapun. Menjadi ibu full time dianggap hanya ‘pekerjaan’ tidak penting. Tidak perlu sekolah yang tinggi, tidak perlu pintar untuk menjadi seorang ibu. Salah! Anda justru harus menjadi muslimah yang sangat cerdas untuk bisa memenuhi peran keibuan.

Kemuliaan peran keibuan dewasa ini pun semakin tergerus oleh serangan barat. Setelah Quran dan Sunnah Nabi, hal yang kerap kali diserang oleh para orientalis adalah wanita dan perannya dalam keluarga.

Ide-ide feminisme, kesetaraan gender, dan kebebasan wanita saat ini gencar disuarakan barat kepada umat Islam. Kita pun tahu, tidak sedikit yang terjebak untuk mencicipi racun atas nama kebebasan wanita tersebut. Akhirnya, hancurlah kemuliaan dan martabat wanita diikuti dengan runtuhnya pilar-pilar keluarga dan pendidikan anak.

Islam telah mengajarkan kemuliaan seorang ibu. Sejarah telah mencatat banyak orang hebat yang lahir dari seorang ibu yang juga hebat. Tak pernah ada cacat pada peran keibuan. Tak pernah ada cela pada predikat seorang ibu. Maka tak berlebihan bila ada ungkapan bahwa surga ada di telapak kaki ibu.

Muslimah perlu menyadari peran vitalnya sebagai seorang ibu. Ibu bukan hanya tiga huruf, I – B – U, yang begitu sederhana hingga mudah dilupakan. Ibu bukan hanya predikat sepele sehingga perannya tidak perlu dipenuhi.

Ibu adalah simpul penting sebuah sambungan peradaban. Dialah yang akan mencetak sebuah generasi. Ibu adalah tiang yang akan mengibarkan kembali bendera kejayaan Islam lewat pendidikannya terhadap keluarga. ibu, tak pernah bermakna kecil. Karena Allah lah yang menjadikannya begitu mulia. (hdn)

(Dakwatuna.com - Tin/JFlbuda)



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

10 Wasiat Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna






1. Bergegaslah menunaikan shalat ketika mendengar adzan, walau dalam kondisi bagaimanapun !

2. Bacalah Al-Qur’an, lakukan pengkajian, dan dengarkan ( hal-hal yang bermamfaat tentangnya), atau berdzikirlah kepada Allah. Jangan gunakan sebagian waktumu untuk hal-hal yang tidak berguna.

3. Berusahalah sekuat tenaga untuk berbicara dengan bahasa arab yang fasih sebab ia merupakan syiar Islam.

4. Jangan memperbanyak perdebatan dalam urusan apapun, sebab perdebatan tidak mendatangkan kebaikan.

5. Jangan banyak tertawa, sebab hati yang berhubungan dengan Allah itu harus senantiasa tenang dan berwibawa.

6. jangan banyak bergurau, sebab ummat yang berjuang tidak mengenal kecuali keseriusan !.

7. Jangan berbicara terlalu keras (melebihi kebutuhan pendengar), sebab itu kedunguan dan menyakitkan (mengganggu).

8. Jangan menggunjing orang lain, jangan menghina lembaga-lembaga Islam, dan jangan membicarakan kecuali yang baik-baik.

9. perkenalkan dirimu pada saudara yang engkau temui, walau ia tidak meminta, sebab asas da’wah kita adalah kecintaan dan saling mengenal.

10. Kewajiban itu lebih banyak daripada waktu, maka bantulah orang lain supaya dapat memamfaatkan waktunya. Apabila engkau memiliki suatu keperluan, maka persingkatlah dalam memenuhinya.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS