Banten Untuk Siapa? Banten Milik Siapa?



Gerbang KP3B | sumber gambar rumahdijual.com
Hari ini memang hari yang aku tunggu-tunggu, karena akan bertemu dengan dosen yang begitu ceriwis walau agak rumpi, tapi seru aja ngeliat tingkahnya dalam mengisi perkuliahan. Sebetulnya ibu dosen ini tidak spesial, biasa saja seperti dosen yang lainnya, namun yang luar biasa, beliau memiliki segudang cerita unik dan mencengangkan tentang Banten. Dengan gaya bicaranya yang khas, kadang membuat geli dan kadang membuat ternganga melihatnya, karena saking seriusnya kita mendengar beliau bercerita.


"Ya, saya kan saudaranya bu Atut, tapi saudara yang golongan Kontra"

What? Kami sekelas sempat kaget mendengarnya, ada juga yang merespon sambil ketawa aneh, agak heran ternyata ada juga ya saudara Gubernur Banten yang tidak cocok dengannya. "Saya begini karena sudah tau bagaimana situasi pemerintahan yang dibina bu Atut sejak dulu". Rasanya ini lucu namun ajaib, bahkan sempat berpikir apa mungkin karena beliau terkontaminasi oleh kawan-kawannya di fakultas yang tergolong peka sosial dan politik, namun itu jadi terbantahkan saat beliau menjelaskan bahwa ia dan suaminya pun tidak suka dengan pemerintahan yang dipimpin oleh Atut karena gaya kepemimpinannya yang tidak wajar.


"Sekarang bola sedang memanas, saya harap teman-teman mahasiswa bisa memanfaatkan momen ini agar lebih memanaskannya melalui opini yang dimuat pada media massa. Mumpung masih panas, jangan sampai nunggu padam, karena kita harus bisa memperbaiki Banten, beropini salah satu hal kecil namun berdampak besar bagi siapapun yang dikritik." katanya yang semangat.

Sebetulnya ini bukan kali pertama beliau memberikan informasi mengenai kebobrokan Banten, tetapi sudah semenjak pertemuan perdana beliau menyampaikan informasi serupa untuk bahan pembahasannya. Waktu itu aku pikir mungkin karena ia memegang matakuliah Opini Publik, makanya mau tidak mau beliau mengabarkan itu semua sebagai contoh. Tetapi sepertinya ada filosofis tersendiri ketika ia menyampaikan itu. Seperti ada harapan yang ingin segera diwujudkan oleh kami mahasiswa.

Bendungan air mata yang rasanya sudah sesak dirongga dada ketika mendengar uang-uang APBD yang dibilang terbesar di Indonesia bergulir bukan untuk rakyat. Sesak bukan main dan rasanya saat dikelas itu aku ingin teriak tapi tak mungkin. Ya, kebobrokan Banten bukan hal yang tabuh lagi, saking terasanya keanehan dalam fasilitas dan lain-lainnya. Mungkin tidak semua tau bagaimana situasi di Banten jika belum berkunjung langsung, karena Banten sangat mempercantik tampilannya di media atau bahkan banyak yang tidak tau karena pemberitaan tentang Banten di media nasional cukup sedikit. Baru kali ini hal yang lumrah di Banten terkuak pada tataran nasional dan dirasa tabuh.

Banten menjadi sumber koruptor yang sangat empuk, korupsi dianggap sebagai budaya dan kata-katanya pun tidak langsung bilang kalo itu korupsi, lebih dikatakan sebagai "jatah". Bahagia sekali mereka memakan uang rakyat, mungkin belum ada kesempatan ditegur Allah, atau mungkin Allah sudah tidak mencampuri urusannya lagi didunia agar Allah bisa puas memasukkannya ke dalam kerak neraka.

"Biasanya budaya kita di Banten kalau ingin mengadakan agenda seperti ini kita biasa kasih ke Ibu 30%, tapi itu belum untuk saya lho.. biasanya saya dapat 10%, dan buat pajak sekian.. dan.. (bla bla bla bla..)" Cerita ibu dosen memperagakan cara bicara seseorang saat ia bertemu dengan bidang yang mengajak kepada para akademisi untuk mengevaluasi kinerja dari suatu program kerja se-Banten. Dari angka 90juta, para akademisi tercengang karena akan hanya dapat 30juta saja untuk mengevaluasi kinerja se-Provinsi Banten, karena dipotong sana-sini namun dalam surat perjanjiannya tetap tertulis 90juta rupiah. Sangat mencengangkan bahwa korupsi dilakukan secara terang-terangan. Dengan sigap para akademisi tidak sama sekali menerima ajakan tersebut. Mungkin hal semacam ini yang menyulitkan KPK untuk bergerak, karena data tentang kedzaliman di Banten sudah terkumpul semua tetapi sulit untuk digugat karena yaa surat perjanjian yang sudah tertandatangani oleh para oknum itu sangat rapi.

Ironis dan mirisnya memang tidak tanggung-tanggung, jika kita melihat kondisi Banten saat ini kelaparan, kemiskinan, kesehatan yang tidak memadai, lapangan pekerjaan yang masih kurang dan lain-lainnya menjadi warna-warni yang kelam bagi masyarakat di Banten. Faktor kedinastian pun menjadi salah satu penyebab keburukan tatanan pemerintahan di Banten.

"Kalau Jokowi berhasil memimpin Solo itu biasa, Jokowi memimpin DKI pun masih biasa dan katanya mau memimpin Indonesia itu juga akan biasa saja. Namun Jokowi akan dibilang luar biasa jika ia bisa menjadi Gubernur Banten dan memperbaiki semuanya." Guyonan menantang dari para dosen di fakultas saat mereka berkumpul, menampakkan kegerahan dengan situasi seperti ini dan hanya harapanlah yang membawa perubahan sesungguhnya.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dakwah yang Tergadaikan



Pagi tadi rasanya aku begitu ceria, siang pun banyak kisah yang tertuang. Ini hari pertamaku kuliah di semester ganjil yang ketiga. Hingga tadi aku mendengar seruan ilmu yang mengingatkan aku dan kawan-kawan pada kitab suciNya yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. Aku termenung mendengarnya, begitu menginspirasi, dari lidah sosok yang sudah biasa dikenal kami para pejuang kampus, Ust. Fadlullah (Dosen PAI FKIP UNTIRTA). Senyum-senyum kecil kepada sang pengabar kebaikan, terkadang tawa cerdas dan saling menyimak. Hingga sampai diakhiri dengan doorprize yang menggiurkan mata, walau aku tak mendapatkannya, tetap senang dan ceria.

Tetiba ada sosok lugu memanggilku sampai aku menghampirinya, menyapaku dengan manis dan penuh polos. Aku senang punya adik baru, kebetulan masa MABA (Mahasiswa Baru) masih harum tercium dari angin kampus. Akhirnya kami bercengkrama, hingga ada kata yang membuat kutersontak kaget lalu histeris sedikit. Penasaran. Ada kisah yang membuatku terasa kasihan dan khawatir, aku pendam dengan tenang, namun terpikir dahsyat. Sambil terdiam kuselinapkan kata untuk terus mencari tau kebenarannya, jika salah makna bisa berdampak aneh pada pikiranku. Langsung aku berdoa agar berita kemiringan itu tak benar adanya, untuk tetap jaga ukhuwah.

Aku sudah memendamnya walau masih terpikir. Aku melangkahkan kaki mungil ini menuju tempat yang memanggil kawanku, aku diajak bertemu sosok yang kedua usai sholat maghrib yang aku ikut masbuk saat itu. Langkah pasti ku gerakan, bertemunya aku dengan sosok yang kedua ini berawal santai dan penuh canda. Tak lama kemudian, berubah dengan nada marah kutanggapi. "Apa? jadi begitu?!!" tersontak kesalku terucap lantang. Ini masih tentang aktifitas dakwah. Aku dibuat kecewa, tentang aktifitasku yang kujaga, ternyata dirubah tanpa ada yang mengabari dengan gamblang, lalu aku baru tau saat ini dalam kondisi yang tak mendukung. Kesal. Langsung aku gerutu dengan kegondokan, sampai pada akhirnya aku bercerita ke sosok yang biasa disampingku (sosok ketiga/sudah beda orang lagi). Aku mengisahkan seluruh luapan pertanyaan hati yang tak sanggup aku pendam sendiri.

Dalam bis antar kota kami berdiskusi layaknya sidang yang sengit. Semua tentang kami dan ummat. Aku malu sungguh jika membicarakan keummatan yang sungguh belum aku raih dalam kondisi kampusku. Dengan konsidi yang berkecambuk dan nyaris membuatku lemas tak berdaya, namun aku tetap menguatkan tegaknya badanku, seperti yang diajarkan para pendahulu tentang bersabar dan tegar. Sangat banyak yang kami diskusikan hingga aku berharap diskusi ini menjadi ladang perubahan, walau kami sama-sama sempat kecewa.

Sedih, rasanya jalan ini tergadaikan dengan tingkah laku yang membosankan. Bukan hanya aku, banyak insan ternyata merasakan hal sama, namun, banyak insan itu hanya segelintir. Perubahan memang bisa diraih, seperti yang sempat kusinggung sebelumnya, bahwa perubahan cepat teratasi dengan kebersamaan yang kokoh. Sepertinya itu menjadi pupus jika dijabarkan. Pilihan kedapan itu terlalu banyak menguras ketenangan, tameng harus siap siaga dengan bermacam hal yang tak pernah dihadapi. Tapi memang harus dihadapi.

Tantangan dakwah telah dihadapan, rasanya aku masih bersama yang segelintir. Entah ini hanya perasaanku, namun sering kukaji ulang dan hasilnya tetap sama, kepekaan milik segelintir. Hingga hati menjerit, mata tak indah meneteskan kerisauan, teriakan mulut rasanya ingin segera keluar dari rongga tenggorokan. Tak sedikit juga dari segelintir mulai menepi kepinggir untuk mengibarkan bendera putih, kian segelintir dari segelintir. Memang bertahan adalah pilihan. Pilihan yang Allah tetapkan untuk segelintir dari segelintir, untuk insan yang masih diberikan kepercayan olehNya, untu insan  yang terus kuat dan menjemput gelar mujahid.

Kekhawatiran begitu berkecambuk, sunyi hati ini memikirkan keberlimpahan problematika. Tak diherankan ada rasa ingin ikut melipir dan mengibarkan bendera putih, namun aku takut, aku menjadi insan yang tak bisa tepat dengan janjiNya dan mengecewakanNya jika aku ikut melipir kepinggir. Diskusi alot yang tak menghasilkan terus menjadi usaha. Membatin rasanya untuk berteriak "Haiiii..... apa yang kalian lakukaaaaan???". Banyak diskusi sedikit aksi menjadi tamparan besar. Landasan yang harusnya menjadi patokan perjuangan ternyata tak banyak yang menghiraukan, bahkan tak ada. Sudah banyak orang kejauhan yang mengingatkan "Perbaiki pemahaman antum!", namun rasanya itu hanya menjadi kicauan sesaat.

Rasa tanggung jawab menipis bagai lembaran rambut yang entah berapa inci. Tanggung jawab hanya menjadi sebuah penggugur saja, "yang penting ane selesaikan amanah ane, setelahnya biar yang lain saja". Apakah dakwah hanya pada sampai titik itu saja? Pertanyaan kotor pun terus terpikirkan dengan kualitas yang kini ada, "sudah pantaskah kita memimpin? jika belum, kenapa?", lagi-lagi pemahaman.

Keluh saat aku berada dihadapan mereka, jika kuluappkan semua pasti akhirnya aku akan tersedu sedan dan membanjirkan luapan emosi. Apakah aku tetap harus melakuakan itu? Kini hanya harap penuh kepada Allah agar setiap langkah yang menjalar pada titik perjuangan dapat diperbaiki, dan aku salah satu makhluk yang ikut memperbaikinya, semoga. Perjuangan kita masih jauh, amanah yang Allah berikan kepada kita seharusnya dapat membuat kita kuat, bukan melipir tak berdaya. Jika kegencaran gagalnya sebuah amanah, ukhuwah hingga puncak dakwah, maka ada perasaan yakin yang kutanam bahwa itulah yang cobaan cinta dariNya yang Allah titipkan untuk kita. Lari bukan jawaban. Bergerak adalah pilihan. Tergantikan, sebuah cerminan kekalahan.

Sebelum tidur, setelah berdiskusi dan diiberi secuil pengarahan tentang dakwah kampung, aku mendengar celotehan yang menggugah, dari sosok mas'ul di kampung halamanku. Hingga tak sadar menitikan luapan hati lewat mata kecilku. "Jangan lupa ruhiyah antum ditingkatin, karena sebagus apapun konsep kita kalo ruhiyahnya kendor, musnah semua deh. Tilawah antum dikencengin lagi. Ane bukan ngingetin antum aja, tapi antum biar ngingetin yang lain juga". Kata-kata sederhana itu yang tak aku dapatkan pada peradaban kampus mungilku.

Wallahu'alam bishowab.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nulis Jalan-Jalan



Rasanya kalo kita ngomongin tentang nulis bakal banyak banget cerita dari tiap sosok yang menyampaikannya, atau banyak juga yang kita pikirkan. Salah satu yang kepikiran adalah mau nulis apa? Emang enak nulis itu saat mood lagi up dan suasana mendukung, tapi lebih menarik kalo kita nulis tentang suatu tempat yang kita hadiri, lalu tempat itu adalah yang keren luar biasa.

Seperti yang dijelaskan oleh Mas Gol A Gong dan Mba Tias Tatanka dalam acara Talk Show yang diadakabln oleh KAMDA Banten, dengan tema "Travel Writer Juga Entrepreneur". Pasangan yang saling melengkapi ini berkisah tetang perjalanannya berkeliling negara sambil menginspirasi untuk nulis. Hmmm keren banget dan hal ini bisa menggugah semangat orang yang membaca tulisan mereka, agar bisa termotivasi untuk jalan-jalan juga.

Gak munafik kalo kita menginginkan untuk jalan-jalan keluar kota hingga keluar negeri, tapi kendalanya adalah ya dana yaa dana hehe. Tapi kalo kita niat, kayaknya semua bisa terwujud. Acara yang diadakan di Aula RS. Sari Asih ini menjadi inspirasi buat para pemuda yang hadir, diantaranya para pelajar antusias dari daerah Cikande juga turut serta mendengarkan dengan seksama talk show ini.

Intinya, nulis itu kudu niat dan bukan karena mood juga, tapi karena tempat dan suasanannya yang mendukung juga mengakibatkan inspirasi terus ada untuk dituang ke dalam tulisan yang berarti bagi para pembaca.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hutang Kita Kepada Para Syuhada




"Kesibukan ane sekarang jadi aktivis dakwah kampus aja sih.."
"Dimana, akh?"
"Di wajihah xxx Universitas xxx"
"Subhanallah, ternyata dunia sempit ya.. ane juga sama, sekarang wajihah ane di Universitas yyy juga lagi sibuk urus dauroh ajah.."

Hmm begitulah sedikit perbincangan dari salah dua orang yang bertemu tiba-tiba disebuah masjid saat beristirahat ditengah perjalanan mudik lebaran. Karena merasa ketemu tampang yang nggak jauh beda, akhirnya saling tegur sapa. Sudah biasa rasanya kalau kita juga mengalami hal seperti ini, bertemu dengan sahabat dari beda Universitas namun dengan lebel wajihah yang sama. Itu sudah lumrah.

Tapi ngaku, dan yakin kaya dialog yang "ane sekarang jadi aktivis dakwah" hmmm agak nyerempet kearah yang mengkhawatirkan. Why??? Aktivis dakwah (mau dikampus atau dimanapun), adalah kata yang singkat namun penuh makna ini menjadi sebuah kata trobosan yang kayaknya WAH banget gitu lho. Secara dari kata Aktivis, kita bisa membayangkan betapa aktifnya orang yang disebut aktivis itu dalam setiap kegiatan disebuah lembaga maupun organisasi yang resmi. Dakwah, jika diulas pun akan sangat menguras banyak waktu, karena makna dakwah dari satu kata itu malah kian banyak, jika dilihat dari berbagai sisinya. Aktivis dakwah akan sangat mengkhawatirkan jika dianggap biasa-biasa saja.

Banyak dari kita mungkin yang mengaku bahwa kita aktivis dakwah, baik dalam hati maupun sebuah pengakuan dengan lisan, namun belum paham isi dari konteksnya. Jika kita tersadar, maka mungkin kita akan ingat bahwa hutang untuk menjadi ADK/ADS/ADW (W = wilayah) itu sangatlah bergelimpangan. Apa lagi di Indonesia ini, masih banyak PR besar yang harus kita selesaikan bukan dengan hal yang ecek-ecek, melainkan dengan strategi yang matang dan arah pasti.

Buku-buku yang sengaja saya potret (lihat gambar), itu beberapa bekal untuk menjadikan kita lebih bersemangat dan tau arah (walau belum begitu lengkap dan masih banyak lagi santapan buku sebagai referensi para aktivis). Selain kita ahli dalam menguasai medan, kita juga harus memiliki bekal dan ahli dalam bidang ilmu atau bisa dibilang ini adalah salah satu pemantapan fikroh. Sudah sejauh mana kita menguasai? Apakah kita menyi'arkan islam dengan kemampuan seadanya dan untuk bekal sesaat saja, yang tak bisa menumbuhkan rasa antusias orang lain (yang kita syi'arkan) untuk tetap pada prinsip yang baik?

Tempo hari, saya berkumpul dengan beberapa sahabat di rumah, yang sama-sama gelisah dengan kondisi ummat saat ini. Kenapa saya sebut gelisah? Ya, karena kegelisahan inilah yang terpenting dalam dakwah. Saya sangat khawatir jika men-judge bahwa saya dan kawan-kawan adalah aktivis dakwah, karena sepertinya belum bisa dikatakan pada taraf itu. Kami sama-sama mengulas balik kisah para sahabat dengan kriteria perjuangannya masing-masing, yang tetap konsisten, yang pada dasarnya menempatkan semua karena Allah.

"Sudah sampai mana bacaan manhaj antum? Sudah selesaikah? Atau malah, masih belum selesai sama sekali (a.k.a belum dibaca)?" Tersontak pertanyaan dari seorang sobat itu hadir dalam keceriaan kami dan hanya sunyi yanga ada saat itu. Saat semua menjawab bergiliran, jawabannya nggak jauh berbeda dan penuh tampang malu. "Buku ini baru separo, kalo yang itu udah habis sih tapi itu juga PR dari MR plus syarat ikut dauroh, terus yang lain yaa sama masih separo-separo aja. Mungkin bacanya tergantung mood itu.." santai-santai malu memilukan, jawaban itu pun muncul seketika. Rata-rata jawabannya sama seperti itu. Akhirnya mengundang pertanyaan yang lain.

"Terus antum berdakwah berdasarkan apa? Al Quran dan As Sunnah aja?" ketawa-ketiwi hadir saat itu, namun tetap malu memilukan, huft... Lanjut.. "Antum gimana siap terjun untuk dakwah kalo bacaan antum masih separo-separo? Nanti yang ada mungkin apa yang antum sampaikan separo-separo juga lagi"

Dari pertanyaan yang nyentil itu menghasilkan banyak pemikiran, salah satunya bagaimana terus semangat dan memaksakan diri untuk membaca buku-buku itu, buku-buku yang memang disiapkan untuk mental pejuang dakwah yang sesungguhnya. Pikiran ini terus bercabang-cabang sampai memunculkan banyak ide-ide sederhana namun sepertinya bisa menjadi cara agar perjalanan indah ini terus berlanjut. Mungkin cara-cara yang terpikirkan ini sudah biasa dikalangan orang-orang terdahulu (para senior), namun sekarang, kemerosotan dakwah sangat terasa, bukan di satu tempat, melainkan banyak tempat di Indonesia yang meresakan hal tersebut karena beberapa faktor.

Para qiyadah yang kian sedikit bertoleransi mengingatkan jundi-jundinya akan kesadaran cita-cita bersama ini. Atau malah bekal qiyadahnya pun belum bisa dibilang cukup? Jika kita membayangkan posisi kita seperti saudara-saudara di Mesir yang sedang bergejolak saat ini, mungkin kita akan segera hancur lebur, karena masih mengartikan perjuangan ini untuk formalitas belaka. Masih ada diantara kita yang halaqoh karena untuk menggugurkan keberadaan di wajihah, lalu karena ada teman yang asik, karena ingin cari jodoh, karena untuk kekerenan aja saat berada di wajihah. Sebetulnya bukan itu yang diinginkan oleh para sahabat kepada kita. Kita diajak berkumpul bersama, untuk menumbuhkan pemikiran yang matang, yang jelas arahnya, kita disana diingatkan betapa pentingnya hidup antum untuk orang lain dan antum harus menguasai setiap ilmu untuk menjadi senjata ampuh, kita juga diingatkan bahwa setiap kita adalah pemimpin yang akan memajukan ummat. Jika dalam halaqoh saja hati-hati kita belum menyatu satu sama lain, maka bagaimana untuk menyatukan seluruh hati ummat muslim se-Tanah Air ini? Apa kabar Rabithah kita?

Apakah dakwah kita masih ecek-ecek? "Kalo nggak ada si ukhti, ane nggak mau dateng ah.. males nggak ada temen yang bisa diajak ngobrol" atau "Kalo ada si akhi, ane males dateng ke kajian lah, males ketemu dia" Itu kah dakwah kita? Mau beramai atau sendiri kita harus siap. Jika masih ada pemikiran cetek seperti itu, tak dipungkiri bahwa dakwahnya masih seujung rambut, belum sampai akar-akarnya dipahami. Astaghfirulloh.. Inikah kemerosotan ummat? Jika kita masih merasa, "ah kayaknya ane nggak kaya begitu, malah ane yang bergerak sendirian, ane masih bisa ko, tapi mereka itu mbok yaa sadar gitu lho.." Bagus kalo kita masih sadar dan bisa bergerak walau sendiri, tapi apakah dalam kesendirian mempercepat pergerakan? Atau hanya melejitkan nama saja? Sudahkah dengan kesungguhan mengajak kawan untuk sama-sama berbagi dengan yang lain? Atau mengandalkan secarik sms JARKOM atau TA'LIMAT yang kian diabaikan keberadaannya? Sudahkah bicara dari hati kehati?

Banyak sekali kekhawatiran, sampai diri ini pun bertanya "Ya Allah, sesungguhnya sudah sampai mana taraf dakwahku ini? Apakah aku pantas dikatakan seorang aktivis dakwah? Ataukah aku masih setaraf dengan orang yang aku dakwahi? Berikan hidayahMu, dan jika memang pantas, jadikanlah aku salah satu penggerak keluarga, sahabat, adik-adik dan orang-orang disekitarku dalam berislam.."

Para syuhada bukanlah orang yang ecek-ecek, para syuhada adalah orang-orang pilihan Allah, para syuhada adalah penggerak yang tangguh dan mengayomi setiap langkah untuk kesejahteraan ummat. Para syuhada adalah yang tak pernah takut untuk mati dalam kondisi berjihad, para syuhada adalah insan yang yakin akan bertemu Allah jika mereka menyerahkan seutuhnya kepada Allah. Mental mereka adalah mental baja, fikroh mereka adalah fikrohnya fikroh. Apakah kita sudah sampai pada titik itu?

Ikhwah fillah, ini mungkin hanya segelintir jeritan hati yang ingin segera terluapkan dengan pasti. Entah output apa yang akan diterima, namun harapannya sebuah pergerakan nyata. Saya hanya ingin kita disini sama-sama berpikir, sama-sama memuhasabahkan diri bahwa, sudah sampai mana posisi dakwah kita hari ini? Jika kita sangat menikmati keleha-lehaan dihari ini, maka sampai kapan perubahan yang diimpikan itu tercapai? Ataukah impian bangkit itu sama sekali tidak pernah ada didiri masing-masing kita? Jika itu yang terpikirkan, maka hutang kita pada para syuhada untuk meneruskan perjuangan mereka akan kian menumpuk, mungkin hingga membusuk.

Wallahu'alam bishowab..



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS