Ibu, Sang Arsitek Peradaban



Suatu malam yang tenang dan hening. Semua orang telah beranjak ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Menarik selimut hingga terlindungi dari hawa dingin yang melingkupi cakrawala Madinah. Namun, seorang laki-laki yang disadarkan oleh rasa tanggung jawab sebagai pemimpin menyingkap selimutnya. Dia keluar menyusuri lorong-lorong Madinah yang mencekam. Merayapi jalan-jalan yang sepi dari tapak kaki manusia.

Dia keluar seorang diri menembus kegelapan malam. Barangkali ia menjumpai musafir yang tidak menemukan tempat bermalam. Atau orang yang merintih kesakitan. Atau orang lapar yang belum menemukan sesuap makanan untuk mengganjal perutnya. Barangkali ada urusan rakyatnya yang luput dari pengawasannya. Atau mungkin ada domba yang tersesat jauh di pinggir sungai Eufrat. Allah akan menanyakannya dan menghisabnya kelak.

Jangan heran! Lelaki tersebut adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab RA.

Setelah sekian lama mengitari Madinah dan mulai merasakan lelah pada sendi-sendinya, Umar bersandar pada salah satu dinding rumah kecil di pinggiran kota Madinah. Dia beristirahat sejenak sebelum melanjutkan langkahnya menuju masjid.
Kala itu, sayup-sayup terdengar olehnya suara dua orang wanita dari dalam rumah kecil tempat ia bersandar. Percakapan seorang ibu dengan putrinya. Percakapan dimana sang putri menolak untuk mencampur susu perah dengan air putih.
Sang ibu berkata, “Campurlah susu itu dengan air!”

Sang putri menjawab, “Sesungguhnya, Amirul Mukminin telah melarang kita untuk mencampur susu dengan air. Tidakkah Ibu mendengar juru bicaranya menyampaikan larangan tersebut?”

“Umar tidak melihat kita. Dia tidak akan tahu apa yang kita lakukan di saat-saat terakhir malam ini.” Jawab ibunya.
Putrinya pun menjawab seketika, “Wahai Ibuku, walaupun Umar tidak melihat namun Tuhan Umar melihat kita. Demi Allah, saya tidak akan melakukan apa yang dilarang-Nya.”

Ucapan putri tadi menyejukkan hati Umar. Jawaban yang menggambarkan kejujuran dan keimanan.
Akhirnya Umar menikahkan putranya, Ashim, dengan gadis yang baik itu. Gadis itu bernama Ummu Ammarah binti Sufyan bin Abdullah bin Rabi’ah Ats-Tsaqafi. Kelak ia akan melahirkan dua anak gadis yang diberi nama Laila dan Hafshah. Laila kemudian dikenal dengan panggilan Ummu Ashim.

Ummu Ashim kemudian menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan, seorang gubernur Bani Marwan. Dari pernikahan yang suci ini lahirnya seorang khalifah yang mulia, Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz yang berjuluk Khalifah Kelima adalah pemimpin yang sang bersahaja. Tingkat keimanannya tidak perlu diragukan lagi. Umar hafal Quran sejak kecil. Matanya selalu banjir air mata karena rasa takutnya pada Allah.

Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, tidak ada yang menjadi mustahik. Tidak ada orang yang berhak menerima zakat. Rakyatnya hidup makmur dan sejahtera. Sementara Umar hidup sangat sederhana.

Apa yang menjadikan Umar memiliki pribadi yang begitu luar biasa? Ummu Ashim, ibunda Umar, mendidiknya sejak kecil dengan penuh kasih sayang. Mengajarkan Umar Quran dan cinta pada Allah. Ia selalu menjaga dan mengawasi putranya.
Ummu Ashim juga dikenal sebagai wanita yang sangat dermawan dan menyayangi orang-orang yang lemah. Ummu Ashim mewakili gambaran ideal tentang sosok seorang ibu. Demikian juga ibunda dari Ummu Ashim. Rasa takutnya pada Allah menjadikannya pribadi yang unggul.

Keteladanan wanita-wanita tersebut menjadi bukti vitalnya seorang ibu dalam membentuk sebuah generasi. Seorang penyair mengungkapkan bahwa ibu adalah sebuah sekolah. Apabila dipersiapkan dengan baik, berarti telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.

Tidak berlebihan tentu saja. Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu bagaikan wadah yang mengajarkan dan mendidik berbagai macam ilmu dalam kehidupan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Sebagai pendidik awal, ibulah yang pertama kali meletakkan fondasi dasar –terutama dalam aspek keimanan- kepada anak dalam proses pendewasaan mental dan pematangan jiwa.

Gambaran pentingnya tugas seorang ibu tercakup dalam pernyataan yang diungkapkan oleh DR. A. Madjid Katme, Presiden Asosiasi Dokter Muslim di London dalam konferensi dunia tentang wanita di Beijing. Berikut tuturannya :

“Tugas keibuan adalah pekerjaan yang paling terhormat dan membutuhkan keterampilan di dunia ini. Dan terlaksananya tugas ini sangat penting bagi pemeliharaan dan perlindungan anak terutama di masa-masa awal pertumbuhannya. Tak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya. Dan tak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuan tersebut.”

Namun, begitu banyak muslimah yang kurang bahkan tidak memahami pentingnya peran seorang ibu. Peran yang, menurut Katme, tidak bisa digantikan oleh siapapun. Menjadi ibu full time dianggap hanya ‘pekerjaan’ tidak penting. Tidak perlu sekolah yang tinggi, tidak perlu pintar untuk menjadi seorang ibu. Salah! Anda justru harus menjadi muslimah yang sangat cerdas untuk bisa memenuhi peran keibuan.

Kemuliaan peran keibuan dewasa ini pun semakin tergerus oleh serangan barat. Setelah Quran dan Sunnah Nabi, hal yang kerap kali diserang oleh para orientalis adalah wanita dan perannya dalam keluarga.

Ide-ide feminisme, kesetaraan gender, dan kebebasan wanita saat ini gencar disuarakan barat kepada umat Islam. Kita pun tahu, tidak sedikit yang terjebak untuk mencicipi racun atas nama kebebasan wanita tersebut. Akhirnya, hancurlah kemuliaan dan martabat wanita diikuti dengan runtuhnya pilar-pilar keluarga dan pendidikan anak.

Islam telah mengajarkan kemuliaan seorang ibu. Sejarah telah mencatat banyak orang hebat yang lahir dari seorang ibu yang juga hebat. Tak pernah ada cacat pada peran keibuan. Tak pernah ada cela pada predikat seorang ibu. Maka tak berlebihan bila ada ungkapan bahwa surga ada di telapak kaki ibu.

Muslimah perlu menyadari peran vitalnya sebagai seorang ibu. Ibu bukan hanya tiga huruf, I – B – U, yang begitu sederhana hingga mudah dilupakan. Ibu bukan hanya predikat sepele sehingga perannya tidak perlu dipenuhi.

Ibu adalah simpul penting sebuah sambungan peradaban. Dialah yang akan mencetak sebuah generasi. Ibu adalah tiang yang akan mengibarkan kembali bendera kejayaan Islam lewat pendidikannya terhadap keluarga. ibu, tak pernah bermakna kecil. Karena Allah lah yang menjadikannya begitu mulia. (hdn)

(Dakwatuna.com - Tin/JFlbuda)



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

10 Wasiat Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna






1. Bergegaslah menunaikan shalat ketika mendengar adzan, walau dalam kondisi bagaimanapun !

2. Bacalah Al-Qur’an, lakukan pengkajian, dan dengarkan ( hal-hal yang bermamfaat tentangnya), atau berdzikirlah kepada Allah. Jangan gunakan sebagian waktumu untuk hal-hal yang tidak berguna.

3. Berusahalah sekuat tenaga untuk berbicara dengan bahasa arab yang fasih sebab ia merupakan syiar Islam.

4. Jangan memperbanyak perdebatan dalam urusan apapun, sebab perdebatan tidak mendatangkan kebaikan.

5. Jangan banyak tertawa, sebab hati yang berhubungan dengan Allah itu harus senantiasa tenang dan berwibawa.

6. jangan banyak bergurau, sebab ummat yang berjuang tidak mengenal kecuali keseriusan !.

7. Jangan berbicara terlalu keras (melebihi kebutuhan pendengar), sebab itu kedunguan dan menyakitkan (mengganggu).

8. Jangan menggunjing orang lain, jangan menghina lembaga-lembaga Islam, dan jangan membicarakan kecuali yang baik-baik.

9. perkenalkan dirimu pada saudara yang engkau temui, walau ia tidak meminta, sebab asas da’wah kita adalah kecintaan dan saling mengenal.

10. Kewajiban itu lebih banyak daripada waktu, maka bantulah orang lain supaya dapat memamfaatkan waktunya. Apabila engkau memiliki suatu keperluan, maka persingkatlah dalam memenuhinya.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hati Yang Ringkih




“ Hai orang-orang yang beriman, Bertaqwalah Kepada Allah dan

hendaklah setiap diri Memperhatikan apa yang telah diperbuatnya

untuk hari esok ( akhirat ),dan bertaqwalah Kepada Allah,

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan….”

( Q.S :Al-Hasyr : 18 )


Lemahnya aspek ibadah, ketaatan dan keyakinan kepada Allah berarti matinya ruhiyah (Keimanan).,Lepasnya nilai-nilai akhlaqul karimah dan jauh dirinya dari perasaan soliditas dan solidaritas terhadap jama’ah dan ummat. Maka tak ada kebaikan padanya kecuali fasad (kerusakan), keburukan, kemalasan, hilangnya cita-cita dan terbang tingginya kebahagian didunia jua diakhirat.

Perhatikanlah tanda-tanda berikut, bagi mereka yang mencari ikhtibar (pelajaran), mencintai kebaikan, menuai ketaatan dan menjaga eksistensinya sebagai hamba Allah SWT, jika ada artinya ruhani anda sedang ringkih ;

1. Merasakan keras dan kasarnya hati, sampai-sampai seseorang merasakan hatinya telah berubah menjadi batu keras. Dimana tidak ada sesuatupun yang merembes kepadanya ataupun mempengaruhinya. Ungkapan ini tidaklah berlebihan, bukankah Al-Qur’an telah menerangkan bahwa hati dapat mengeras sekeras batu.Allah Berfirman, “ kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu bahkan lebih keras lagi … “

( Q.S. Al-Baqarah : 74 )

2. Perangai yang tersumbat dan dada yang sempit, sampai-sampai terasa ada beban berat menghimpit dan nyaris terengah-engah kelelahan, sering mengomel dan mengeluh terhadap sesuatu yang tidak jelas , gelisah dan sempit dalam pergaulan sehingga tidak perduli terhadap derita orang lain bahkan timbul ketidaksukaan kepada mereka.

3. Tidak terpengaruh oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung ancaman, tuntunan,. Larangan, atau tentang peristiwa kiamat. Dia mendengarkan Al-Qur’an seperti mendengar kalam-kalam lainnya. Lebih berbahaya dia merasa sempit ketika mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an seperti ketika ia mendengarkan omongan orang lain.

4. Peristiwa kematian tidak memberikan bekas pada dirinya. Begitu juga ketika menyaksikan orang mati, mengusung jenazah atau menguburkannya dilianglahat, sedikitpun tidak ada pengaruh pada dirinya. Jika melewati pekuburan seakan hanya berpapasan dengan batu-batu bisu tidak mengingatkannya akan kematian.

5. Kecintaanya terhadap kesenangan duniawi senantiasa bertambah. Kesukaannya memenuhi syahwat selalu berkobar. Fikirannya tidak jauh dari pelampiasan syahwat sehingga dia merasa tentram bila sudah memperolehnya. Apabila melihat orang lain memperoleh kenikmatan dunia seperti harta, kedudukan, pangkat, rumah, atau pakaian yang bagus dia merasa tersiksa dan mengangggap dirinya gagal. Lebih tersiksa lagi apabila yang mendapatkan kenikmatan duniawi itu adalah saudaranya sendiri atau sahabatnya. Terkadang timbul pada dirinya penyakit hasad dimana dia tidak ingin kenikmatan itu tetap ada pada saudaranya.

6. Ada Kegelapan dalam ruhiyah yang berbekas diwajahnya. Hal ini dapat diamati oleh mereka yang memiliki ketajaman firasat dan memandang dengan nur Allah. Kegelapan Ruhiyah tergambar pekat pada wajahnya sehingga dapat dilihat oleh meraka yang memiliki imaniyah terkecil sekalipun. Dan pertemuan dengan tak mengingatkannya akan ketaatan dan ibadah kepada Allah

7. Bermalas-malasan dalam melakukan kebaikan dan ibadah. Hal tersebut terlihat dengan kurangnya perhatian dan semangat. Shalat yang dilakukannya hanya sekedar gerakan, bacaan, berdiri dan duduk yang tidak memiliki atsar ( bekas ) sedikitpun. Bahkan tampak dia merasa terganggu, seolah didalam penjara dan ingin berlepas secepat mungkin.

8. Lupa yang ketrlaluan kepada Allah. Sedikitpun dia tidak berdzikir dengan lisannya dan tidak juga ingat kepada-Nya. Padahal dia selalu menyaksikan kekuasaan Allah. Bahkan dia merasa keberatan untuk berdzikir atau berdo’a kepadanya. Jika dia mengangkat tangan cepat sekali dia menurunkannya.

Na’udzubillah



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

... 3 M ...



Melaknat, mengutuk, memaki dalam hukum Islam termasuk dalam golongan dosa besar. 3M itu sendiri biasa dilakukan oleh orang yang hatinya diliputi kebencian , dendam,dan kemarahan. Sehingga apa yang dibencinya dimaki mengikuti emosi kemarahannya. Makian tersebut dapat dapat ditujukan kepada sesama manusia, atau makanan, atau binatang, atau barang2.
Kita yang sering memaki sesuatu menunjukkan kesombongan dan keangkuhan kita di depan Allah, seakan-akan kita merasa yang paling benar, paling bersih, paling suci, paling pintar,paling mulia, dan paling sempurna. Padalah kesempurnaan itu adalah milik Allah, kesempurnaan itu datangnya dari Allah. Perbuatan memaki tersebut menunjukkan seolah-olah kita telah memvonis atau menentukan keburukan makhluk yang ada di hadapan kita. Seolah-olah kita mengetahui akhir dari kehidupan ini, atau akhir dari makhluk yang dimaki, maka dari itu memaki termasuk perbuatan tercela, karena kita manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, ternyata masih mengikuti hawa nafsu, nafsu setan.

Dari sebuah hadist diriwayatkan: Abu Darda berkata berkata Rasullullah telah bersabda, :

“ Orang yang biasa memaki, melaknat, mengutuk, tidak dapat memberi safaat atau menjadi saksi di hari akhir “.

Rosullullah tidak pernah mencela, memaki terhadap makanan yang rendah, bila beliau berkehendak dimakannya, bila tidak suka maka beliau tidak memakannya. Intinya memaki ciptaan Allah sama dengan menghina kepada Allah, menghina pada sang pencipta, Dzat yang memiliki segalanya, maka dari itu kebanyakan dari kita yang suka memaki memiliki perangai yang buruk dan jauh dari akhlaqul karimah landasan umat Islam. Dan perbuatan buruk itu dapat membawa kita dalam kehidupan yang sombong, takabur, dan lupa kepada Allah.



“ Hai orang-orang beriman , jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu mengguncing sebagian yang lain “. ( Al-Hujarat : 12 ).


“ Siapa yang beriman kepada Allah & hari akhir, maka hendaklah ia mengatakan yang baik-baik saja, atau (kalau tidak mungkin)…diam saja. ( HR Muslim )

semoga kita bisa kembali ke fitrah diri kita dalam meraih ridha Allah SWT...
(a life/JFlbudam)



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
|Free Template Blogger | BERITA'KU | Indo Tutorials | SEO |
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS